Rabu, 16 November 2016

laporan-praktek-padi-dan-palawija.blogspot


LAPORAN HASIL PRAKTEK


BUDIDAYA TANAMAN PADI ( Oryza sativa L)
DAN PALAWIJA



Dosen Pengasuh : Sri Winaty Hrp, SP. MP


OLEH


HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127

Program Studi : Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014

Judul Praktek         : Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Metode SRI
(System of  Rice Intensification) dan Penanaman Jagung (Zea mays L),Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Secara Polikultur (Tumpang sari )

Nama                       : Hopman Siregar
NPM                        : 2011 11 127
Program Studi        : Agroteknologi
Dosen Pengasuh     : Sri Winaty Hrp, SP
Asisten                     : 1. Halidah Edi Harahap
                                   2. Nurul Hidayah Pakpahan






FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014





KATA PENGANTAR


Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan syukur kita ucapkan  kahadirat  Allah SWT atas limpahan rahmat dan ridho – Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan praktikum Budidaya Tanaman Padi ( Oryza sativa L ) dan Palawija,yang berjudul “Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Methode SRI (System of  Rice Intensification) dan Penanaman Jagung (Zea mays L),Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Secara Polikultur (Tumpang sari ), tepat pada waktunya.
Penulis juga mengucapkan terimakasih pada Ibu Sri Winaty Hrp,SP selaku dosen pengasuh, Adinda Halidah Edi dan Nurul Hidayah , selaku asisesten dosen yang telah memberikan bantuan, arahan, dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan dan penulisan laporan pratikum ini, dan tak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang ikut membantu  penulisan laporan pratikum ini.
Penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan penulisan laporan pratikum ini. Tapi mungkin terdapat beberapa kekurangan dan kelemahannya, untuk itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan laporan pratikum ini. 

Padang Sidempuan, Juli 2014

HOPMAN SIREGAR
NPM:  2011 11 127


DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR................................................................          i
DAFTAR ISI................................................................................          ii
BAB.I PENDAHULUAN...........................................................          1
1.1. Latar Belakang..............................................................          1
1.2.Tujuan.............................................................................          2

BAB.II TINJAUAN PUSTAKA................................................          3     
2.1. Botani  Padi (Oryza sativa L)........................................          3
2.1.1.Klasifikasi  dan Morfologi Padi (Oryza sativa L).....          3
2.1.2.Syarat Tumbuh Padi (Oryza sativa L).......................          4
2.2. Botani Jagung ( Zea mays L )........................................          5
2.2.1. Klasifikasi Jagung ( Zea mays L )............................          5
2.2.2. Morfologi  Jagung ( Zea mays L )............................          5
2.2.3. Syarat Tumbuh Jagung ( Zea mays L ).....................          6
2.3.  Sistematika Kacang Tanah (Arachis hypogea L)..........          7
2.3.1. Klasifikasi Kacang Tanah (Arachis hypogea L........          7
2.3.2. Morfologi Kacang Tanah (Arachis hypogea L.........          7
2.3.3. Syarat Tumbuh Kacang Tanah (Arachis hypogea L. 9
2.4. Sistem Tanam Metode SRI...........................................          9
2.5. Pola Tanam Ganda ( Tumpang sari )............................         10

BAB III. METODE PELAKSANAAN.....................................         12
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan...................................         12
3.2. Alat dan Bahan ............................................................         12
3.3. Pelaksanaan...................................................................         12
3.1. Budidaya Padi Metode SRI.......................................         12
3.2. Budidaya Kacang Tanah dan Jagung secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari)............................         14
3.4.Parameter pengamatan...................................................         15
3.4.1. Padi Metode SRI.....................................................         15
3.4.2. Jagung (Zea mays L)................................................         16
3.4.3. Kacang Tanah (Arachis hypogea L).........................         16

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN...................................         17
4.1.Hasil...............................................................................         17
4.1.1 Budidaya Padi Metode SRI.....................................         17
4.1.2.Budidaya Kacang Tanah dan Jagung secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari)..........................         18
4.2. Pembahasan...................................................................         19
4.2.1 Budidaya Padi Metode SRI.....................................         19
4.2.2.Budidaya Kacang Tanah dan Jagung secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari)..........................         20

BAB V. PENUTUP.....................................................................         21    
5.1.Kesimpulan.....................................................................         21
5.2. Saran..............................................................................         21

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN











BAB. I
PENDAHULUAN


1.1.            Latar Belakang
Tanaman padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia karena lebih dari setengah penduduk  Indonesia menjadikan beras sebagai makanan pokok. Beras merupakan sumber energi paling tinggi dibandingkan dengan jenis pangan lainnya. Beras juga merupakan sumber karbohidrat tertinggi dibandingkan dengan jenis pangan lainnya, yaitu mencapai 360 kalori, maka tidak heran beras paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan pokok.
            System of  Rice Intensification (SRI) merupakan salah satu sistem budidaya yang dapat meningkatkan produksi padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah dan air. Penerapan SRI berdasarkan atas lima komponen penting yaitu, penanaman bibit muda (7 – 14 hari setelah semai), bibit ditanam satu batang per lubang,  jarak tanam yang lebar (30 cm x 30 cm), kondisi tanah yang lembab (tidak tergenang) dengan irigasi diputus–putus (2 cm) dan rutin dilakukan penyiangan untuk menghilangkan gulma serta meningkatkan aerasi tanah (Sutaryat, 2008).Metode tersebut terbukti berhasil meningkatkan produktivitas padi  sebesar 50 % bahkan di beberapa tempat mencapai 100 %. Selain hemat air dan produktivitasnya tinggi, tambahnya, sistem tanam model tersebut mampu menghemat biaya petani karena hanya memerlukan bibit 5 kg/ha sementara dengan sistem biasa membutuhkan bibit 25kg/ha. Dari hasil penelitian Pusat  Penelitian Pertanian di Puyung, Lombok NTB, terbukti metode SRI memberikan hasil rata-rata 9 ton/ha dibanding penanaman konvensional yang hanya 4-5 ton/ha (http://www.kapanlagi.com, 2008).
Secara agronomi penggunaan bibit muda berpengaruh pada peningkatan pertumbuhan akar, anakan, dan kemampuan menahan kekurangan air (Anugrah et al. 2008; Gani, 2003).  Ini merupakan sistem budi daya padi yang relatif baru sehingga penerapan di suatu lokasi memerlukan kajian demikian pula sosialisasi terhadap petani.

Jagung (Zea mays L) merupakan tanaman serealia yang paling produktif di dunia. Penyebaran tanaman jagung sangat luas karena mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan. Jagung tumbuh baik di wilayah tropis hingga 50° LU dan 50° LS, dari dataran rendah sampai ketinggian 3.000 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan tinggi, sedang, hingga rendah sekitar 500 mm per tahun (Dowswell et al. 1996).
Kacang tanah (Arachis hypogea L) adalah komoditas agrobisnis yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan salah satu sumber protein dalam pola pangan penduduk Indonesia. Kebutuhan kacang tanah dari tahun ketahun terus meningkat, sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, kapasitas industri pakan dan makanan Indonesia (Fachruddin,2000).
Pola tanam berganda (Tumpang sari ) merupakan sistem pengelolaan lahan pertanian dengan mengkombinasikan intensifikasi dan diversifikasi tanaman (Francis,1989). Pada umumnya sistem tumpangsari lebih menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi lebih tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982).
Penanaman tumpangsari menciptakan agroekosistem pertanaman yang komplek, yang mencakup interaksi antara tanaman sejenis maupun berbeda jenis. Persaingan terjadi apabila masing-masing dua atau lebih spesies tanaman memerlukan kebutuhan hidup yang sama (Haryadi, 1996). Menurut Odum (1997) kompetisi menunjukkan adanya upaya tanaman untuk memperoleh  sumberdaya yang sama. Pada tingkat ekologi, kompetisi menjadi penting ketika dua organisme berjuang memperoleh sumberdaya yang sama yang jumlahnya tidak cukup untuk keduanya. Tanaman berkompetisi dalam memperoleh cahaya dan nutrisi.
1.2.            Tujuan
1        Mahasiswa mengetahui pertumbuhan Vegetatif ( Tinggi, jumlah anakan) tanaman padi (Oryza sativa L) dengan metode SRI (System of  Rice Intensification )
2        Mahasiswa mengetahui pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung (Zea mays ) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L ) dengan penanaman polikultur ( Tumpang sari )
BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1.  Padi ( Oryza sativa L )                                                       
2.1.1.Klasifikasi dan Morfologi  Padi ( Oryza sativa L )
Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk golongan tanaman semusim, dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) dalam Aksi Agraris Kanisus (2000). tanaman padi diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         :  Plantae
Divisio            : Spermatophyta
Sub dipisio      : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledonae
Ordo               : Glumiflorae
Familia            : Graminae
Sub famili       : Oryzadiae/Poaceae
Genus              : Oryza
Species            : Oryza sativa L.
Padi mempunya susunan morfologi yaitu akar, batang ,daun dan bunga.
1. Akar
Akar tanaman padi adalah akar serabut. Akar yang mula-mula muncul disebut akar seminal yang tumbuh sewaktu berkecambah bersama-sama akar-akar lain yan muncul dari janin dekat bagian buku skutellum. Akar-akar  bersifat sementara dan akan diganti oleh akar adventif yang tumbuh dari buku yang terbawah batang. Berbeda dengan sistem perakaran tanaman berkeping dua, maka akar tanaman padi tidak memiliki pertumbuhan sekunder (Esau, 1977). Dengan demikian diameter akar tidak akan banyak berubah sejak tumbuh.

2. Batang 
Batang tanaman padi terdiri dari ruas-ruas yang dibatasi oleh buku. Pada tanaman yang masih muda batang padi terutama terdiri dari pelepah-pelepah daun dan ruas-ruas yang tertumpuk padat. Sejalan dengan pertumbuhan tanaman ruas-ruas itu kemudian semakin memanjang dan berongga, terutama setelah tanaman memasuki stadia reduktif, karena itu stadia reproduktif disebut juga stadia pemanjangan ruas (Yoshida,1981 dalam Manurung dan Ismunadji, 1988).
3. Daun
Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam susunan yang berselangseling, satu daun tiap-tiap buku. Tiap-tiap daun terdiri dari helai daun, pelepah daun, telinga daun dan lidah daun. Daun teratas pada tanaman padi disebut daun bendera yang posisi dan ukurannya berbeda dengan daun yang lain. Jumlah daun pada tiap-tiap tanaman tergantung pada varietas, biasanya antara 14 sampai 18 daun pada batang utama didaerah tropik (Soemartono, Bahrin, Samad dan Haryono, 1982). 

4. Bunga
Bunga tanaman padi secara keseluruhan disebut malai. Bagian terkecil dari bunga padi dinamakan spikelet, yang terdiri dari tangkai, bakal buah, lemma, palea, putik dan benangsari serta beberapa organ lainnya yang bersifat interior (Manurung dan Ismunandji, 1988). Tiap unit bunga pada malai terletak pada cabang-cabang bulir yang terdiri dari cabang primer dan sekunder (Siregar, 1981).

5. Buah
            Gabah atau buah padi adalah ovary yang telah masak, bersatu dengan lemma dan palea. Buah padi akan membentuk sekam atau kulit gabah (Departemen pertanian, 1983).

2.1.2. Syarat Tumbuh Padi ( Oryza sativa L )
Tanaman padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl, pada suhu 19-23º C, dengan penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Curah hujan berkisar 200 mm/bulan, dengan distribusi selama empat bulan, dengan curah hujan per tahun sekitar 1500-2000 mm. Padi dapat tumbuh pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya antara 18-22 cm dengan pH tanah berkisar antara 4–7 (Nashshar, 2009).

2.2. Sistematika Jagung (Zea mays L)
2.2.1. Klasifikasi Jagung (Zea mays L)
Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea mays saccharata Sturt. Dalam Rukmana (2010), secara sistematik tanaman jagung diuraikan sebagai berikut.
Kingdom           :  Plantae
Divisio               :  Spermatophyta
Sub division      :  Angiospermae
Kelas                 :  Monocotyledonae
Ordo                  :  Graminae
Famili                :  Graminae
Genus                :  Zea
Spesies              :  Zea mays saccrata Linn.

2.2.2. Morfologi  Jagung (Zea mays L)
Ø  Akar
Sistem perakaran jagung terdiri dari akar-akar yang seminal tumbuh ke bawah saat biji berkecambah, akar koronal yang tumbuh ke atas jaringan batang setelah plamula muncul dari akar udara (brace) yang tumbuh dari buku-buku di atas permukaan tanah (Muhadjir,1998).
Ø  Batang
Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 8-12 ruas. Panjang berkisar antara 60-300cm tergantung dari tipe jagung. Ruas-ruas bagian atas berbentuk agak silinder, sedangkan bagian bawahnya agak bulat pipih. Ruas batang yang telah berkembang menghasikkan tajuk bunga betina atau tongkol (Muhadjir,1998).
Batang jagung tidak berulang tetapi padatdan terisi oleh bekas-bekas pembuluh sehingga memperkuat tegaknya tanaman. Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 10-14 ruas, umumnya tak berkecambah, panjang batang berkisar antara 60-300cm tergantung dari jenis jagung (Effendi,1990).


Ø  Daun
Daun jagung memanjang dan keluar dari buku buku batang. Jumlah daun terdiri dari 8-48 helaian. Daun terdiri dari 3 bagian yaitu kelopak daun,lidah daun dan helaian daun. Kelopak daun umumnya membungkus batang. Antara kelopak dan helaian terdapat lidah daun yang disebut ligula. Fungsi ligula adalah mencegah air masuk ke dalam kelopak daun dan batang (Purwono, 2008)
Ø  Bunga
Bunga jagung tidak memiliki sepal dan tepal sehingga disebut bunga tidak lengkap. Bunga jagung juga disebut bunga tidak sempurna karena bunga jantan dan betina berada pada bunga yang berbeda,bunga jantan terdapat diujung batang. Adapun bunga betina terdapat diketiak daun ke 6 atau ke 8 dari bunga jantan (Intanayu, 2011)
Ø  Biji
Biji jagung tersusun rapi pada tongkol,dalam satu tongkol terdapat 200-400  biji. Biji jagung terdiri dari 3 bagian, bagian paling luar disebut pericarp. Bagian atau lapisan kedua yaitu endosperm yang merupakan cadangan makanan biji. Sedangkan bagian paling dalam yaitu embrio atau lembaga (Jakariasurya, 2012)

2.2.3.Syarat Tumbuh Jagung (Zea mays L)
Untuk pertumbuhan yang baik, tanam jagung memerlukan air dan suhu  yang cukup tinggi. Tanam jagung memerllukan panas dan lembab dari waktu tanam sampai selesai pembuahan. Syarat tumbuh bagi tanaman jagung manis yakni cahaya matahari cukup atau tidak ternaungi (Emedinta, 2004).
Suhu di indonesia pada umumnya sudah cukup baik untuk pertumbuhan untuk tanaman jagung. Suhu optimal yang di butuhkan untuk berkecambahnya  biji jagung adalah kurang lebih 30 – 32 0C, suhu optimum 24 – 30 0C, curah hujan merata sepanjang umur tanaman antara 100 – 200 mm per bulan, ketinggian tempat optimal hingga 300 mdpl (Sujana dkk, 1991).  Selanjutnya di katakan bahwa, intensitas cahaya matahari sangat di perlukan untuk pertumbuhan yang baik. Sebaiknya tanaman jagung mendapat cahaya matahari yang langsung, dan jangan menanam jagung pada tempat tempat terlindung dari cahaya matahari karena dapat mengurangi hasil.
Jagung dapat tumbuh pada pH tanah antara 5,5 – 7,0 dan tanaman ini dapat tumbuh pada ketinggian 0-1300 Mdpl. Tanah yang kemiringannya tidak lebih dari 8% masih dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah dengan maksud mencegah erosi pada waktu terjadi hujan (Suprapto, 1990).

2.3. Sistematika Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
2.3.1. Klasifikasi Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Dalam taksonomi (sistematika) tumbuh – tumbuhan, kacang tanah di klafikasikan sebagai berikut:
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               : Dicotyledonae
Ordo                : Rosales
Family             : Papilionaceae
Genus              : Arachis
Spesies            : Arachis hypogeae. (Pitojo, 2005)

2.3.2.Morfologi  Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Ø  Akar (Radix)
Menurut Rahmat(2005), perakaran kacang tanah terdiri atas :Akar lembaga (Radicula ), akar tunggang (radix lateralis). Pertumbuhan akar menyebar ke semua arah sedalam ± 30 cm dari permukaan tanah. Akar berfungsi sebagai penghisap unsur hara dan air untuk pertumbuhan.Akar tanaman kacang tanah bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium radicola.Bakteri ini terdapat pada bintil-bintil (nodula-nodula) akar tanaman kacang tanah dan hidup bersimbiosis dan saling menguntungkan.Tanaman kacang tanah tidak dapat mengambil nitrogen bebas (N2) dari udara tanpa bakteri Rhizobium radicola. Sebaliknya bakteri ini tidak dapat mengikat nitrogen tanpa bantuan tanaman kacang tanah (Rahmat,2005)
Ø  Batang (Calius)
Batang tanaman kacang tanah berbentuk perdu yang tingginya 30-50 cm. Dilihat dari tipe pertumbuhan batangnya, dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe tegak dan menjalar. Tipe tegak berumur lebih genjah  (100-120 hari) dan kematangan polongnya seragam. Tipe menjalar berumur  panjang (150-180) dan kematangan polongnya tidak seragam. Potensi hasil tipe  menjalar perbatanganya lebih banyak tetapi produksi persatuan luasnya lebih  sedikit (Nurwidada, 1998).
Ø  Daun (folium )
Daun kacang tanah berdaun majemuk bersirip genap terdiri atas empat  anak daun dengan tangkai daun agak panjang. Helaian anak daun ini bertugas  menerima cahaya matahari sebanyak banyaknya. Daun kacang tanah mulai gugur  pada akhir masa pertumbuhan dan dimulai dari bagian bawah. Selain berhubungan  dengan umur, gugur daun kadang ada hubungannya dengan faktor penyakit                         ( Suhaeni, 2007 ).
Ø  Bunga (Plos)
Kacang tanah mulai berbunga pada umur 4-5 minggu. Bunga keluar dari ketiak daun bentuk bunganya aneh.setiap bunga seolah olah bertangkai panjang berwarna putih.ini sebenarnya tangkai bunga melainkan tabung kelopak.Mahkota bunganya (coroola) kuning . Bendera dari mahkota bunganya bergaris-garis merah pada pangkalnya.Umur bunga hanya satu hari mekar pagi hari dan layu di sore hari (Suprapto,2004)
Ø  Buah (Fructus)
Kacang tanah berbuah polong.polongnya terbentuk setelah terjadi pembuahan, bakal buah tumbuh memanjang. Inlah yang di sebut dengan gynofor yang nantinya menjadi tangkai polong.Mula-mula ujung ginofor yang runcing mengarah keatas. Setelah tumbuh,ginofor mengarah kebawag selanjutnya mengarah kebawah dan selanjutnya masuk kedalam tanah. Pada waktu inofor menembus tanah ,peranan hujan sangat membantu.setelah membentuk polong, pertumbuhan memanjang ginofor berhenti. Panjang ginofor dapat mencapai 6-18 cm. Ukuaran polong bervariasi tergantung jenis atau varietasnya dan tingkat kesuburan tanah, polong berukuran besar mencapai panjang 6 cm dengan diameter 1,5 cm (Rahmat,2005).
Ø  Biji (Semen)
Menurut Rahmat (2005), Biji kacang tanah berbentuk agak bulat sampai lonjong,terbungkus kulit biji tipis berwarna putih,merah, ungu. Inti biji (nucleus seminis) terdiri atas lembaga (embrio) dan putih telur (albumin). Biji kacang tanah berkeping dua ( dicotyledonae),juga merupakan alat perbanyakan tanaman dan bahan makanan.
Ukuran biji kacang tanah bervariasi, mulai dari kecil sampai besar. Biji kecil beratnya 250-400 gram/1.000 biji kacang,sedangkan biji besar ± 500gram/1.000 butir. Warna biji kacang bermacam-macam ada yang putih, merah, ungu, kesumba (Suprapto, 2004)

2.3.3. Syarat Tumbuh  Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Ø  Iklim
Faktor iklim, adalah faktor kritis yang memang belum dapat dikendalikan oleh manusia. Namun Kacang Tanah dapat tumbuh pada temperatur berkisar antara 18-340 C dan Optimum 25-270C. Dengan curah hujan pada masa pertumbuhan sekitar 100 mm dan optimum berkisar antara 400-1100 mm. Kelembaban berkisar 80%, (Pajow. et.al, 1999)
Ø  Tanah
Kacang tanah dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 0-500m di atas permukaan laut. Tanaman ini tidak terlalu memilih tanah khusus. Diperlukan  iklim yang lembab.Di daerah yang memiliki musim kemarau panjang, kacang tanah memerlukan pengairan, terutama pada fase perkecambahan, pembuahan dan
pengisian polong (Mangoendidjojo, 2003).
            Kacang tanah tumbuh dengan baik jika ditanam di lahan ringan yang  cukup mengandung unsur hara, gembur dan pH 5,0 – 6,3, kacang tanah dapat  tumbuh pada ketinggian tempat 0-500 m di atas permukaan laut (dpl) dan curah  hujan waktu tanam selama dua bulan pertama yang baik ialah 150-250 mm/bulan  dan suhu udara antara 25 0 C- 300 C dengan penyinaran penuh (Marzuki, 2007).

2.4. Sistem Tanam Metode SRI  (System of  Rice Intensification )
System of Rice Intensification (SRI) adalah sistem intensifikasi padi yang  menyinergikan tiga faktor pertumbuhan untuk mencapai produktivitas maksimal   (maksimalisasi jumlah anakan, pertumbuhan akar, dan suplai hara, air, oksigen). Air hanya digunakan untuk menjaga kelembaban tanah agar padi dapat tumbuh  dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar suplai oksigen ke akar cukup sehingga padi menjadi sehat (Wiyono, 2004).
            SRI mengembangkan praktek pengelolaan padi yang memperhatikan  kondisi pertumbuhan tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran,  dibandingkan dengan teknik budidaya cara tradisional (Berkelaar, 2008).Adapun  Keunggulan metode  SRI (System of Rice Intensification) adalah sebagai berikut :
Ø  Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
Ø  Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha. Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit, tenaga tanam kurang dll.
Ø  Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss, dan waktu panen akan lebih awal
Ø  Produksi meningkat,  di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
Dari pengalaman SRI di negara Banglades , Cambodia, China,  Indonesia , Nepal , Srilangka Vietnam bahwa rata terjadi pengningkatan untuk  padi sebesar rata 52 % untuk pemberian air berkurang 40 % , biaya yang bisa  dihemat antara 25 % dan income yang didapat sebesar rata 128 %  (http://litbang.go.id, 2008).

2.5. Pola Tanam ganda ( Tumpang sari )
Pertanaman tumpangsari sebagai salah satu usaha intensifikasi yang memanfaatkan ruang dan waktu, banyak dilakukan terutama pada pertanian lahan sempit, lahan kering atau lahan tadah hujan. Sebagai salah satu sistem produksi, tumpangsari diadopsi karena mampu meningkatkan efisiensi penggunaan faktor lingkungan (seperti cahaya, unsur hara dan air), tenaga kerja, serta menurunkan serangan hama dan penyakit dan menekan pertumbuhan gulma. Selain itu pertanaman secara tumpangsari masih memberikan peluang bagi petani untuk mendapatkan hasil jika salah satu jenis tanaman yang ditanam gagal (Rahmianna et al.,  1989).
Sistem tanam tumpangsari adalah salah satu  sistem tanam di mana terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu relatif sama atau berbeda dengan penanaman berselang-seling dan jarak tanam teratur pada sebidang tanah yang sama (Sarman, 2001). Dikatakan oleh Sarman (2001) bahwa kombinasi yang memberikan hasil baik pada tumpangsari adalah jenis-jenis tanaman yang mempunyai kanopi daun yang berbeda, yaitu jenis tanaman yang lebih rendah yang akan menggunakan sinar matahari lebih efisien.
Tanaman yang biasa ditanam secara tumpangsari adalah kacang-kacangan seperti kedelai, kacang tanah dan kacang hijau dengan jagung atau ubi kayu. Tanaman jagung dan kacang tanah merupakan dua jenis tanaman yang sesuai untuk ditumpangsarikan, karena kedua tanaman ini mampu beradaptasi pada lingkungan secara luas dan relatif mempunyai syarat tumbuh yang sama. Jagung merupakan tanaman yang agak tahan terhadap kekeringan dan efisien dalam pengunaan cahaya. Sedangkan kacang tanah merupakan tanaman yang tahan terhadap naungan dan akarnya mampu mengikat nitrogen (N) dari udara melalui simbiosis dengan bakteri rhizobium (Adisarwanto, 2003).

















BAB III.
METHODE PELAKSANAAN


3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
            Praktek Budidaya Tanaman Padi dan Palawija dilaksanakan di Lahan praktek Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara pada bulan April s/d Juli 2014.

3.2. Alat dan Bahan
            Alat yang digunakan dalam praktek Budidaya Tanaman Padi dan Palawija adalah : Cangkul, gembor, garu, ember, penggaris, alat tulis dan camera.
            Bahan yang digunakan dalam praktek Budidaya Tanaman Padi dan Palawija adalah : Bibit padi (Varitas Invari 10), benih jagung, benih kacang tanah, pupuk kompos pupuk an organik  (Urea, SP36, KCL, Mg ).

3.3. Pelaksanaan Praktek
3.3.1.Budidaya Padi dengan Methode SRI (System of  Rice Intensification)
Ø  Pengambilan tanah
Tanah yang dijadikan sebagai media tanam adalah tanah yang dipakai oleh  Semester I Praktek Bercocok Tanam (2013), yang terlebih dahulu distrerilisasikan dengan cara di kering anginkan selama ± 2 minggu agar gas beracun yang ada di dalam tanah tersebut menguap ke atas sehingga tanah menjadi lebih steril.
Ø  Pengisian pot
Pada pengisian tanah ke pot terlebih dahulu tanah digemburkan dan dibersihkan dari akar-akar dan sisa tanaman lainnya. Tanah yang diambil adalah tanah yang sudah disterilisasikan sebanyak 18 kg/pot, kemudian dicampur dengan pupuk dengan dosis Urea :2,36 gram, KCL : 2,39 gram, Mg : 38,03 gram dan SP-36 : 42,44 gram diaduk hingga merata, kemudian diberikan air secukupnya hingga tanah dalam keadaan macak-macak.

Ø  Persemaian
Sebelum melakukan persemaian, benih direndam terlebih dahulu. Benih yang mengapung dibuang, benih yang tenggelam direndam selama 24 jam dan diperam 24 jam hingga berkecambah dan varietas yang ditanan inpari 10. Media persemaian dibuat dalam Aqua dengan campuran tanah bahan organik (kompos) kemudian benih ditanam kedalam Aqua dengan jumlah benih satu. Persemain dilakukan secara bersamaan sampai umur 14 hari.
Ø  Penanaman
Penanaman dilakukan secara bersamaan pada setiap perlakuan.  Penanaman dengan model dangkal dan tegak. Jumlah bibit ditanam per lubang tanam satu dengan umur bibit 14 hari setelah semai.
Ø  Pemeliharaan tanaman   
ü  Penyulaman; Penyulaman dilakukan pada saat penyiangan pertama jika ada tanaman yang mati.
ü  Penyiangan : Penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang tumbuh.
ü  Pengairan
Pengelolaan air dilakukan 1:2, yaitu penggenangan satu hari (2 cm) dan pengeringan dua hari dalam keadaan macak-macak. Tujuannya untuk memicu perkembangan akar, pembentukan anakan, pembungaan, dan pembentukan bulir.
ü  Pengendalian hama penyakit
Pengendalian hama penyakit dilakukan apabila ada tanaman yag terserang hama dan penyakit dengan menggunakan pestisida dan fungisida.
ü  Pemupukan
Pemupukan dilakukan hanya satu kali, yaitu pada waktu pengisian pot sesuai perlakuan.
Ø  Panen
Ketepatan waktu panen sangat menentukan kualitas bulir, waktu yang tepat adalah bila secara visual 90-95% bulir padi sudah bernas. Selanjutnya dilakukan pemotongan batang dibawah malai dengan menggunakan sabit.  

3.3.2. Budidaya Jagung (Zea mays L) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
dengan Penanama Ganda (Tumpang sari)
Ø  Penyiapan benih
Daya tumbuh benih lebih dari 90%, . Benih jagung yang dibutuhkan adalah sebanyak 16 biji benih jagung .Sedangkan  kacang tanah yang  ditanam sebanyak 16 biji benih  polong Kering, 2 benih tiap lubang tanam.
Ø  Pengolahan tanah
Pengolahan lahan diawali dengan pengukuran lahan sesuai kebutuhan lahan lalu membersihkan lahan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan 2 kali, pencangkulan pertama sedalam 30 cm fungsinya untuk memecahkan bongkah tanah agar diperoleh tanah yang gembur.
Ø  Penanaman
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang tanam  3 cm, dan tiap lubang  diisi 2 butir benih. dengan jarak tanam 25 × 25 cm jagung dengan kacang tanah.
Ø  Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman satu kali sehari , kecuali bila
tanah telah lembab (hujan).
Ø  Pemupukan
Pemberian Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kompos sebanyak 1 kg/ Plot sebelun 2 minggu tanam, tujuan pemberian pupuk kompos adalah untuk menambah kan unsur hara dan memperkaya mikroorganisme dalam tanah. Untuk pupuk anorganik dosis pupuk ( Urea : 3 gram, KCL : 1 gram SP-36 : 2 gram ) diberikan pada waktu 3 minggu setelah tanam  dengan cara pupuk disebarkan ke petakan.
Ø  Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dimulai 2 minggu setelah tanam, waktu interval penyiangan dilakukan 1 minggu sekali. Cara penyiangan  dilakukan  dengan mencabut gulma dan mencangkul.
Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 4 minggu  membentuk ginofor tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah, pada tanaman kacang tanah pembumbunan dilakukan untuk mempermudah ginofor masuk kedalam tanah dan ginofor menjadi buah. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul,  kemudian ditimbun ke pangkal batang   tanaman.
Ø  Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila ada serangan hama dan gejala penyakit tanaman.
Ø  Panen
Panen jagung :
Tanaman jagung manis  dipanen  berumur 70  hari,   jagung  dipanen pada fase masak susu,  ciri jagung yang dipanen apabila  buah jagung ditekan mengeluarkan air seperti susu, kelobot (bungkus janggel jagung) berwarna cokelat muda dan kering serta  rambut jagung kering.
Panen kacang tanah
Umur panen 110 hari, sebagai kriteria penentuan saat panen  sebagai berikut : Sebagian besar daun menguning dan gugur, sebagian besar polong(80%),telah tua, kulit polong cukup keras dan berwarna coklat kehitaman-hitaman, kulit biji tipis dan mengkilat, batang mulai mengeras, rongga polong telah berisi penuh dengan biji dan keras. Sebelum panen lahan disiram, agar pada waktu panen memudahkan pengambilan polong.  Panen dilakukan dengan mencabut batang tanaman secara hati-hati agar polong tidak tertinggal dalam tanah.

3.4. Parameter Pengamatan
3.4.1. Padi (Oryza sativa  L)
Ø  Tinggi tanaman (cm)
Pengukuran dilakukan mulai tanaman berumur satu minggu setelah pindah tanam dengan interval waktu satu kali dalam dua minggu hingga tanaman mengeluarkan bulir (umur 72 hari) setelah pindah tanam. Dengan cara mengukur tanaman mulai dari ujung ajir yang dibuat hingga ujung daun tertinggi.


Ø  Jumlah anakan per rumpun (batang)
Jumlah anakan dihitung dengan cara menghitung jumlah anakan yang muncul pada saat umur  satu minggu setelah tanam dengan interval waktu satu kali dalam dua minggu hingga tanaman mengeluarkan bulir (umur 72 hari) setelah pindah tanam.
3.4.2. Jagung (Zea mays L) dn Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Ø  Persentase Pertumbuhan
Pengamatan persentase pertumbuhan dilakukan pada umur 2 minggu setelah tanam,dengan menghitung jumlah tanaman yang hidup dan mati dengan rumus sebagai berikut :
( X) Jumlah tanaman yang hidup        × 100%
(Y) Total  yang di tanamn

Ø  Jagung (Zea mays L) Tinggi tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman jagung dimulai dari pangkal batang sampai titik tumbuh tanaman. Pengamatan  dilakukan mulai pada umur 2 minggu setelah tanam sampai tanaman mengeluarkan bunga  jantan, Interval waktu pengamatan 1  minggu.
Ø  Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Jumlah cabang daun
Pengamatan jumlah cabang daun dilakukan mulai pada umur 2 minggu setelah tanam samapai panen, Interval waktu pengamatan 1  minggu.
3.5. Denah Tanaman
            Adapun denah tanaman Jagung (Zea mays L) dan Kacang tanah ( Arachis hypogea L) dalam satu plot adalah sebagai berikut :


    J          X        J          X
   
    J          X        J          X

    J          X        J          X

    J          X        J          X
   

   

   
 
 







                        Keterangan : J (Jagung ) dan X (Kacang Tanah )

BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1.Hasil
4.1.1. Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Metode SRI (System of  Rice
Intensification)
Adapun hasil pengamatan tanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanama Metode SRI (System of  Rice Intensification), dan dengan  parameter pengamatan Tinggi tanaman (cm) dan jumlah anakan adalah sebagai berikut :
Tabel.Tinggi tanaman dan jumlah Anakan tanaman Padi (Oryza sativa L)
No
Pengamatan
Jumlah Anakan
Tinngi Tanaman (cm)
1
I
5
21,3
2
II
18
37,1
3
III
34
46,5
4
IV
48
68,3

Grafik jumlah anakan Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode SRI (System of  Rice Intensification)
Grafik Tinggi Tanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode SRI (System of  Rice Intensification)



4.1.2. Budidaya Jagung (Zea mays L) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
dengan Penanaman Ganda (Tumpang sari)

  1. Tinggi Tanaman Jagung (Oryza sativa L)
Tabel.2. Tinggi tanaman jagung
No
Tanaman
Pengamatan, Tinggi Tanaman (Cm)
I
II
III
IV
V
VI
1
Tan.1
14.2
21.3
30.8
45.2
67.3
88.2
2
Tan. 2
9.2
14.2
21.2
38.8
51.4
66.4
3
Tan. 3
15.3
22.7
32.1
50.4
79.3
107.5
4
Tan. 4
14.8
22.6
33.6
41.2
58.4
86.3
5
Tan. 5
12.4
18.5
27.7
38.7
58.3
73.6
6
Tan. 6
13.6
20.3
25.1
44.1
66.7
108.6
7
Tan. 7
10.7
14.2
23
48.7
74.5
97.6

            Adapun grafik tinggi tanaman jagung (Zea mays L) adalah sebagai berikut


  1. Persentase pertumbuhan Jagung (Zea mays L)
Hasil persnsentase pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L) dengan metode penanaman berganda (Tumpang sari) adalah sebagai berikut:
7 (Jumlah tanaman yang hidup)  × 100 %
8 (Total tanaman yang di tanam)

= 87,5 %

  1. Kacang Tanah (Arachis hypogea L)

Tabel.3.Jumlah cabang daun
No
Tanaman
Pengamatan,Jumlah cabang daun
I
II
III
IV
V
VI
1
Tan. 1
6
9
17
25
31
36
2
Tan. 2
8
12
16
22
24
28
3
Tan. 3
7
11
15
19
25
31
4
Tan. 4
5
9
14
17
21
25
5
Tan. 5
4
7
11
14
18
21
6
Tan. 6
8
12
19
25
28
34

Grafik Jumlah cabang daun tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L) adalah  sebagai berikut :
  1. Persentase pertumbuhan Kacang tanah (Arachis hypogea L)
Hasil persnsentase pertumbuhan tanaman kacang tanah  (Arachis hypogea L) dengan metode penanaman berganda (Tumpang sari) adalah sebagai berikut:
6 (Jumlah tanaman yang hidup)  × 100 %
8 (Total tanaman yang di tanam)

= 75 %



4.2.Pembahasan

4.2.1. Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Metode SRI (System of  Rice
Intensification)
            Dari tabel diatas penanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode SRI (System of  Rice Intensification) ,jumlah anakan dan tinggi tanaman semakin meningkat mulai pengamatan pertama sampai pengamatan terakhir , jumlah anakan 5 pada pengamatan pertama dengan umur 2 minggu setelah tanam dan  pengamatan terakhir 48 anakan , sedangkan untuk  tinggi tanaman  pengamatan pertama 21,3 cm dan pengamatan terakhir 68,3 cm dengan umur tanaman 2 bulan setelah tanam.
Pertumbuhan tanaman padi berdasar pengamatan tinggi tanaman menunjukkan bahwa bibit muda (umur 7 hss) memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada bibit umur 11 dan 15 hss (105,63 berbanding 103,72-104,04 cm) pada umur 11 minggu.  Hal ini menunjukkan bahwa bibit umur muda lebih cepat beradaptasi sehingga menghasilkan tanaman yang tumbuh relatif cepat (Gani, 2003).Konsisten dengan tinggi tanaman adalah jumlah anakan total yang lebih tinggi padi ditanam dengan umur muda (14.60 batang untuk bibit muda berbanding 12,70 dan 12,94 batang untuk bibit 11 dan 15 hss)
Berdasarkan hasil penelitian Husein (2013) mengenai jumlah bibit per rumpun dan umur bibit pindah tanam terhadap pertumbuhan dan produksi padi sawah dengan metode SRI (The System of Rice Intensification) di dapat hasil bahwa, jumlah bibit per rumpun dan umur bibit pindah tanam yang terbaik terdapat pada jumlah bibit 3 dan umur 0 dengan jumlah anakan 138,33 tetapi  pada fase vegetatif perlakuan jumlah bibit pada semua umur pengamatan yang terbaik terdapat pada bibit 1 dengan jumlah anakan 124,42. Hal ini disebabkan karena penanaman 1 bibit per lubang dapat menghindari persaingan nutrisi, energi, hingga aktivitas perakaran, sehingga memberikan kesempatan bagi tanaman untuk membentuk anakan.
Menurut Gardner, et al, (1991) jumlah anakan akan maksimal apabila tanaman memiliki sifat genetik yang baik ditambah dengan keadaan lingkungan yang menguntungkan atau sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selanjutnya Ismunadji, et al, (1988) menyatakan bahwa jumlah anakan ini juga ditentukan oleh radiasi matahari, hara mineral serta budidaya tanaman itu sendiri.
Dari beberapa hasil penelitian (misalnya Laulanie, 1993; Wangiyana et al., 2006), teknik SRI memang memberikan suasana yang kondusif terhadap pertumbuhan anakan, karena lingkungan pertumbuhannya yang tidak tergenang selama fase pertumbuhan vegetatif. Menurut teori phyllochron, peluang untuk membentuk lebih banyak anakan akan lebih besar jika pindah tanam bibit dilakukan pada umur yang lebih muda dan pesemaian yang juga tidak tergenang, seperti komponen utama teknik SRI (Laulanie, 1993; Berkelaar, 2001;Uphoff et al.,2002)

4.2.2. Budidaya Jagung (Zea mays L) dan Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
dengan Penanaman Ganda (Tumpang sari)
            Dari hasil tabel diatas pada tinggi tanaman jagung (Zea mays L) dan jumlah cabang daun kacang tanah (Arachis hypogea L), dengan penanaman berganda (Tumpang sari ) yang paling tinggi pada pengamatan terakhir sebelum munculnya bunga (reproduksi generatif ) adalah tanaman 6 dengan tinggi 108,6 cm dan paling rendah 66,4 cm pada tanaman 2 ,untuk persentase pertumbuhan jagung 87,5 %
            Pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L) jumlah cabang daun yang paling banyak pada tanaman 1 dengan jumlah cabang daun sebanyak 36, terendah dengan jumlah cabang daun 21 cabang pada tanaman ke 5, sedangkan Persentase pertumbuhan kacang tanah 75%. Diantara kedua tanaman jagung dan kacang tanah,tanaman yang paling banyak tumbuh yaitu tanaman jagung 87,5%.
Tanama jagung tergolong mempunya peningkatan tinggi yang baik. Yaitu dengan rata-rata 8-10 cm perminggu. Namun tinggi tanaman jagung juga dapat betkurang sesuai dengan keadaan umurnya, dimana ujung tanaman (daun)telah menguning. Ada pula pengurangan tinggi tanaman disebabkan oleh OPT  (Bahri, S. 2007).
Tinggi tanaman antara ketiga pengaturan jarak  tanam tidak berbeda nyata, namun tinggi tanaman ini melebihi tinggi tanaman yang ditanam secara monokultur (rata-rata 68 cm). Hal ini dijelaskan oleh Somaatmadja et al. (1985) bahwa dalam pertanaman tumpangsari, tanaman yang mengalami naungan akan memberikan respon memperbesar luas daun dan batang lebih tinggi (etiolasi). Selain itu, tidak berbeda nyatanya tinggi tanaman disebabkan pada fase pertumbuhan vegetatif kacang tanah (sampai umur 28 hari) cahaya masih cukup diterima tajuk kacang tanah karena kanopi jagung belum berkembang.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman berlangsung baik pada fase vegetatif maupun generatif. Pada fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun, dan batang. Sedangkan pada fase generatif terjadi pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, bunga, buah, dan biji serta pendewasaan struktur penyimpanan makanan dan penimbunan karbohidrat. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang sangat erat hubungannya (Intanayu, 2011).
Pada umumnya tanaman kacang tanah mempunyai arti penting dalam menambah kesuburan tanah karena kemampuannya mengikat N dari atmosfer sebagai hasil kerja sama dengan bakteri Rhizobium sp dalam bintil akar. Manfaat N fiksasi bagi tanaman lain dapat berupa perembesan dari bintil akar untuk tanaman yang tumbuh bersama tanaman leguminosa, dan perombakan bahan organik untuk tanaman berikutnya (Buckman dan Brady, 1982 dalam Kesumawati , 1991).
Tetapi pada kenyataannya perembesan nitrogen terjadi lebih cepat dari pada penggunaannya, sehingga kelebihan nitrogen ini dilepaskan  ke dalam tanah (Russel, 1950 dalam Kesumawati, 1991). Selain itu, tanaman jagung manis mengalami penaungan oleh kanopi kacang tanah yang semakin melebar sehingga tanaman jagung manis tidak banyak mendapatkan cahaya matahari dan karbon dioksida untuk berlangsungnya proses fotosintesis. Dalam hal penyerapan unsur hara dan air, tanaman jagung manis mengalami hambatan karena panjang dan jumlah akar tanaman kacang tanah lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan akar tanaman jagung manis (Khalil, 2000).
Indeks kompetisi dapat terjadi secara intra spesifik dan inter spesifik di antara tanaman. Kompetisi intraspesifik biasanya lebih besar dibandingkan interspesifk dikarenakan pertumbuhan tanaman sama sehingga memperebutkan unsur hara, air dan cahaya dalam kebutuhan yang sama (Herlina, 2011).
Bila antara dua tanaman  mempunyai kompetisi yang kecil dan saling bersinergisme maka indeks kompetisinya kecil. Bila mempunyai kompetisi interspesifiknya kecil dibandingkan dengan intraspesifiknya maka indeks kompetisinya kecil, berarti jagung manis dan kacang tanah dapat ditumpangsarikan karena jagung memiliki batang yang tinggi dan cepat tumbuh serta memiliki sebaran daun selang seling dan bentuk daun  pita sehingga tanaman jagung masih memberi kesempatan sebagian cahaya sampai kebawah, ini dapat dimanfaatkan oleh tanaman kacang tanah. Sedangkan kacang tanah memilikibatang yang rendah dan tajuk yang rimbun sehingga dapat mengatur kelembaban dan suhu mikro. Jika nilai indeks kompetisi kurang dari satu akan mengakibatkan keuntungan hasil dalam sistem tanam campuran dan sebaliknya jika indeks kompetisi lebih dari satu  kombinassi tanaman tersebut akan menyebabkan kerugian(Herlina, 2011).
Jagung dan kacang tanah memungkinkan untuk ditanam secara tumpangsari karena kacang tanah termasuk tanaman C3, jagung tergolong tanaman C4,sehingga sangat serasi (Indrianti, 2009).Jagung tergolong tanaman C4 dan mampu beradaptasi dengan baik pada faktor pembatas pertumbuhan dan produksi. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4antara lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3 fotorespirasi dan transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air(Salisbury dan Ross, 1992)













BAB. V
PENUTUP


5.1. Kesimpulan
Penanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode SRI (System of  Rice Intensification) ,jumlah anakan dan tinggi tanaman semakin meningkat mulai pengamatan pertama sampai pengamatan terakhir , jumlah anakan 5 pada pengamatan pertama dengan umur 2 minggu setelah tanam dan  pengamatan terakhir 48 anakan , sedangkan untuk  tinggi tanaman  pengamatan pertama 21,3 cm dan pengamatan terakhir 68,3 cm dengan umur tanaman 2 bulan setelah tanam.
Pengamatan tinggi tanaman jagung (Zea mays L) dan jumlah cabang daun kacang tanah (Arachis hypogea L), dengan penanaman berganda (Tumpang sari ) yang paling tinggi pada pengamatan terakhir sebelum munculnya bunga (reproduksi generatif ) adalah tanaman 6 dengan tinggi 108,6 cm dan paling rendah 66,4 cm pada tanaman 2 ,untuk persentase pertumbuhan jagung 87,5 %
            Pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L) jumlah cabang daun yang paling banyak pada tanaman 1 dengan jumlah cabang daun sebanyak 36, terendah dengan jumlah cabang daun 21 cabang pada tanaman ke 5, sedangkan Persentase pertumbuhan kacang tanah 75%. Diantara kedua tanaman jagung dan kacang tanah,tanaman yang paling banyak tumbuh yaitu tanaman jagung 87,5%.

5.2. Saran
            Untuk praktek  lanjutan palawija dengan menanam tanaman lebih dari 2 tanaman dalam satu areal lahan, untuk melihat sejauh mana pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman.





DAFTAR PUSTAKA


Adisarwanto. 2003. Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan
Lahan Kering. PenebarSwadaya, Jakarta.Co., Chicago

Bahri, S. 2007. Petunjuk teknis Budidaya Jagung. P4 Sulawesi Tengah TA. Pdf.

Berkelaar D. 2001. Sistem Intensifikasi Padi (The System of Rice Intensification-
SRI) :Sedikit Dapat Memberi Lebih Banyak, Bulletin ECHO (terjemahan).

Beets, W.C. 1982. Multiple cropping and tropical farming system . Gower Publ


Gardner, P. F.,R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman
Budidaya Diterjemahkan oleh H. Susilo. Universitas Indonesia Press. Jakarta


Gani. A. 2003. Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Jawa Tengah Melalui
Intensiikasi. Makalah SemilokaSRI. 2-5 Juni 2003. Klaten.

Husein. M. 2013.  Pengaruh Jumlah Bibit Per Rumpun Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Padi Sawah Dengan Metode SRI. Skripsi Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Graha Nusantara Padangsidimpuan.

Ismunadji, M. Partohardjono, S. Syam, M dan Widjono, A. 1988. Padi. Buku I
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Kesumawati, E. 1991 Pengaruh populasi tanaman kedelai terhadap komponen
hasil jagung didalam tumpangsari kedelai-jagung. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala.Hal: 21-26.

Khalil, M. 2000. Penentuan waktu tanam kacang tanah dan dosis pupuk posfat
terhadap pertumbuhan, hasil kacang tanah dan jagung dalam sistem tumpang sari. Agrista. Vol 4, no 3 :259-265.

Laulanié, Henri de, 1993. Technical presentation on the System of Rice
Intensification, based on Katayama's tillering model. http://ciifad. cornell.edu/sri/Laulanie.pdf. Diakses: 2 juli 2014

Manurung, S.O. dan M. Ismunadji, 1988. Morfologo dan Fisiologi Padi. Pusat
Penelitian dan PengembanganTanaman Pangan, Bogor

Nugroho, W. H. 1990. Statisticial Analysis and Interpretation of Intercropping
Research. Faculty of Agriculture Brawijaya University, Malang.

Rahmianna, A. A., J. Purnomo dan Marwoto. 1989. Produktivitas tanaman kedelai
dan jagung padalingkungan tumpangsari di lahan tegal. Buletin Palawija -: -.

Sarman, S. 2001. Kajian tentang kompetisi tanaman dalam sistem tumpangsari di
lahan kering. JurnalAgronomi 5: -.

Siregar, H. 1981. Budidaya Tanaman Padi. CV. Yasaguna. Jakarta. 316 hal.

Soemartono, Bahrin Samad dan Haryono,1982. Bercocok Tanaman Padi. Yasa
Guna, Jakarta

                        Suhaeni, N. 2007. Petunjuk Praktis Menanam Kedelai. Penerbit Nuansa Bandung.

Somaatmadja, S., M. Ismunadji, Sumarno, S. Mahyudin, S. O. Manurung dan

Yuswadi. 1985. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.

Wangiyana, W., I. Hidayat, Z. Aripin, I. Basa, H.T. Barus dan S. Sato, 2006.
Efisiensi Penggunaan Air dan Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) antara Teknik Irigasi Konvensional dan Berbagai Modifikasi Teknik SRI (System of Rice Intensification). Hlm. 275-284. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi), Yogyakarta 5 Agustus 2006.



















LAMPIRAN



Ø  Jadwal kegiatan

No
Jadwal Kegiatan
Kegiatan
Tujuan
1
26/04/2014
Pengambilan tanah,penjemuran tanah
Agar tanah kering,dan tanah menjadi gembur
2
03/05/2014
Penanaman jagung dan kacang tanah
Untuk memperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman.
3
03/05/2014
Pemberian pupuk dasar dan penyemaian bibit padi
Agar unsur hara tersedia di dalam tanah.
Dilakukan penyemaian,agar tanaman beradaptasi sebelum di pindahakan.
4
17/05/2014
Penyiangan jagung dan kacang tanah, pembumbunan
Penanaman padi
Pengamatan I pertumbuhan jagung dan kacang tanah
Agar tidak terjadi kompetisi unsur hara antara tanaman pokok dengan gulma dan mengurangi serangan H/P
Untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah
Agar tanaman mengalami pertumbuhan dan perkembangan

5
24/05/2014
Pemupukan tanaman dan pengamatan ke-2 jagung dan kacang tanah
Untuk menambahkan unsur hara kedalam tanah,
Menyediakan makanan bagi tanaman
6
31/05/2014
Pengamatan ke-3 kacang tanah dan jagung,pengamatan I tanaman padi
Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman
7
07/06/2014
Pengamatan ke-4 tanaman jagung dan kacang tanah
Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman
8
14/06/2014
Pengamatan ke-2 padi dan pengamatan ke 5 tanaman jagung dan kacang tanah

-
9
21/06/2014
Penyiangan,pembumbunan pengamatan ke 6 tanaman jagung dan kacang tanah
Pemeliharaan tanaman padi
Agar tidak terjadi kompetisi unsur hara antara tanaman pokok dengan gulma dan mengurangi serangan H/P
Untuk memperbaiki tekstur dan struktur tanah

10
05/06/2014
Pengamatan ke 7 tanaman jagung dan kacan tanah pengamatan ke 4 tanaman padi
Untuk mengetahui peningkatan pertumbuhan tanaman


Ø  Dokumentasi fhoto


     

Gambar: Pemberian pupuk dasar        Gambar: Penyemaian benih Padi

      

Gambar: Pengadukan pupuk dasar     Gambar: Penanaman bibit Padi



Gambar: Setelah penanaman

           

Gambar: Penanaman Benih kacang tanah dan jagung


Gambar: Pemupukan jagung dan kacang tanah


              
                                       
Gambar:Mengukur tinnggi padi                     Gambar:Menghitung jumlah anakan









3 komentar: