laporan praktek padi dan palawija
Sabtu, 03 Desember 2016
Rabu, 16 November 2016
laporan-praktek-padi-dan-palawija.blogspot
LAPORAN HASIL PRAKTEK
BUDIDAYA TANAMAN PADI ( Oryza sativa L)
DAN PALAWIJA
Dosen Pengasuh :
Sri Winaty Hrp, SP. MP
OLEH
HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127
Program
Studi : Agroteknologi

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014
Judul Praktek :
Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan
Metode SRI
(System of Rice Intensification) dan Penanaman Jagung (Zea
mays L),Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Secara Polikultur (Tumpang
sari )
Nama :
Hopman Siregar
NPM :
2011 11 127
Program Studi :
Agroteknologi
Dosen Pengasuh :
Sri Winaty Hrp, SP
Asisten :
1. Halidah Edi Harahap
2. Nurul Hidayah Pakpahan
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GRAHA NUSANTARA
PADANGSIDIMPUAN
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Puji dan syukur kita ucapkan kahadirat
Allah SWT atas limpahan rahmat dan ridho – Nya penulis dapat
menyelesaikan penulisan laporan praktikum Budidaya Tanaman Padi ( Oryza sativa L ) dan Palawija,yang berjudul “Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Methode SRI
(System of Rice Intensification) dan Penanaman Jagung (Zea
mays L),Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Secara Polikultur (Tumpang
sari ), tepat pada waktunya.
Penulis
juga mengucapkan terimakasih pada Ibu Sri Winaty Hrp,SP selaku dosen pengasuh, Adinda Halidah Edi dan Nurul Hidayah , selaku asisesten dosen yang telah memberikan
bantuan, arahan, dan dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan dan penulisan
laporan pratikum ini, dan tak lupa pula penulis ucapkan terimakasih kepada
seluruh pihak yang ikut membantu penulisan laporan pratikum ini.
Penulis
sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan penulisan laporan
pratikum ini. Tapi mungkin terdapat beberapa kekurangan dan kelemahannya, untuk
itu penulis mengharapkan kritik maupun saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan penulisan laporan pratikum ini.
Padang Sidempuan, Juli 2014
HOPMAN SIREGAR
NPM: 2011 11 127
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................................ i
DAFTAR ISI................................................................................ ii
BAB.I PENDAHULUAN........................................................... 1
1.1. Latar Belakang.............................................................. 1
1.2.Tujuan............................................................................. 2
BAB.II TINJAUAN PUSTAKA................................................ 3
2.1. Botani Padi (Oryza
sativa L)........................................ 3
2.1.1.Klasifikasi dan Morfologi Padi (Oryza sativa L)..... 3
2.1.2.Syarat Tumbuh Padi (Oryza sativa L)....................... 4
2.2. Botani Jagung ( Zea mays L )........................................ 5
2.2.1. Klasifikasi Jagung ( Zea mays L )............................ 5
2.2.2. Morfologi Jagung (
Zea mays L )............................ 5
2.2.3. Syarat Tumbuh Jagung ( Zea mays L )..................... 6
2.3.
Sistematika Kacang Tanah (Arachis
hypogea L).......... 7
2.3.1. Klasifikasi Kacang Tanah (Arachis hypogea L........ 7
2.3.2. Morfologi Kacang Tanah (Arachis hypogea L......... 7
2.3.3. Syarat Tumbuh Kacang Tanah (Arachis hypogea L. 9
2.4. Sistem Tanam Metode SRI........................................... 9
2.5. Pola Tanam Ganda ( Tumpang sari )............................ 10
BAB III. METODE PELAKSANAAN..................................... 12
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan................................... 12
3.2. Alat dan Bahan ............................................................ 12
3.3. Pelaksanaan................................................................... 12
3.1. Budidaya Padi Metode SRI....................................... 12
3.2. Budidaya Kacang Tanah dan Jagung
secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari)............................ 14
3.4.Parameter pengamatan................................................... 15
3.4.1. Padi Metode SRI..................................................... 15
3.4.2. Jagung (Zea mays L)................................................ 16
3.4.3. Kacang Tanah (Arachis hypogea L)......................... 16
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN................................... 17
4.1.Hasil............................................................................... 17
4.1.1 Budidaya Padi Metode SRI..................................... 17
4.1.2.Budidaya Kacang Tanah dan Jagung
secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari).......................... 18
4.2. Pembahasan................................................................... 19
4.2.1 Budidaya Padi Metode SRI..................................... 19
4.2.2.Budidaya Kacang Tanah dan Jagung
secara
Pola Tanam Ganda (Tumpang sari).......................... 20
BAB V. PENUTUP..................................................................... 21
5.1.Kesimpulan..................................................................... 21
5.2. Saran.............................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB. I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Tanaman
padi merupakan tanaman pangan utama di Indonesia karena lebih dari setengah
penduduk Indonesia menjadikan beras
sebagai makanan pokok. Beras merupakan sumber energi paling tinggi dibandingkan
dengan jenis pangan lainnya. Beras juga merupakan sumber karbohidrat tertinggi
dibandingkan dengan jenis pangan lainnya, yaitu mencapai 360 kalori, maka tidak
heran beras paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia sebagai makanan
pokok.
System of Rice
Intensification (SRI) merupakan salah satu sistem budidaya yang dapat
meningkatkan produksi padi dengan cara mengubah pengelolaan tanaman, tanah dan
air. Penerapan SRI berdasarkan atas lima komponen penting yaitu, penanaman
bibit muda (7 – 14 hari setelah semai), bibit ditanam satu batang per
lubang, jarak tanam yang lebar (30 cm x
30 cm), kondisi tanah yang lembab (tidak tergenang) dengan irigasi diputus–putus
(2 cm) dan rutin dilakukan penyiangan untuk menghilangkan gulma serta
meningkatkan aerasi tanah (Sutaryat, 2008).Metode
tersebut terbukti berhasil meningkatkan produktivitas padi sebesar 50 % bahkan
di beberapa tempat mencapai 100 %. Selain hemat air dan produktivitasnya
tinggi, tambahnya, sistem tanam model tersebut mampu menghemat biaya petani
karena hanya memerlukan bibit 5 kg/ha sementara dengan sistem biasa membutuhkan
bibit 25kg/ha. Dari hasil penelitian Pusat Penelitian Pertanian
di Puyung, Lombok NTB, terbukti metode SRI memberikan hasil rata-rata 9 ton/ha
dibanding penanaman konvensional yang hanya 4-5 ton/ha
(http://www.kapanlagi.com, 2008).
Secara agronomi penggunaan bibit muda berpengaruh pada peningkatan
pertumbuhan akar, anakan, dan kemampuan menahan kekurangan air (Anugrah et al.
2008; Gani, 2003). Ini merupakan sistem
budi daya padi yang relatif baru sehingga penerapan di suatu lokasi memerlukan
kajian demikian pula sosialisasi terhadap petani.
Jagung (Zea mays L) merupakan
tanaman serealia yang paling produktif di dunia. Penyebaran tanaman jagung sangat luas karena mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan. Jagung tumbuh baik di wilayah tropis hingga 50° LU dan 50° LS, dari dataran rendah sampai ketinggian 3.000 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah hujan tinggi, sedang, hingga rendah sekitar 500 mm per tahun (Dowswell et al. 1996).
Kacang tanah (Arachis hypogea L) adalah
komoditas agrobisnis yang bernilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan salah
satu sumber protein dalam pola pangan penduduk Indonesia. Kebutuhan kacang
tanah dari tahun ketahun terus meningkat, sejalan dengan bertambahnya jumlah
penduduk, kebutuhan gizi masyarakat, kapasitas industri pakan dan makanan
Indonesia (Fachruddin,2000).
Pola tanam berganda (Tumpang sari ) merupakan
sistem pengelolaan lahan pertanian dengan mengkombinasikan intensifikasi dan
diversifikasi tanaman (Francis,1989). Pada umumnya sistem tumpangsari lebih
menguntungkan dibandingkan sistem monokultur karena produktivitas lahan menjadi
lebih tinggi, jenis komoditas yang dihasilkan beragam, hemat dalam pemakaian
sarana produksi dan resiko kegagalan dapat diperkecil (Beets, 1982).
Penanaman tumpangsari menciptakan agroekosistem pertanaman yang komplek,
yang mencakup interaksi antara tanaman sejenis maupun berbeda jenis. Persaingan
terjadi apabila masing-masing dua atau lebih spesies tanaman memerlukan
kebutuhan hidup yang sama (Haryadi, 1996). Menurut Odum (1997) kompetisi
menunjukkan adanya upaya tanaman untuk memperoleh sumberdaya yang sama. Pada tingkat ekologi, kompetisi
menjadi penting ketika dua organisme berjuang memperoleh sumberdaya yang sama
yang jumlahnya tidak cukup untuk keduanya. Tanaman berkompetisi dalam
memperoleh cahaya dan nutrisi.
1.2.
Tujuan
1
Mahasiswa mengetahui
pertumbuhan Vegetatif ( Tinggi, jumlah anakan) tanaman padi (Oryza sativa L) dengan metode SRI (System of Rice Intensification )
2
Mahasiswa
mengetahui pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung (Zea mays ) dan Kacang
Tanah (Arachis hypogea L ) dengan penanaman polikultur ( Tumpang sari
)
BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Padi ( Oryza sativa L )
2.1.1.Klasifikasi dan
Morfologi Padi ( Oryza sativa L )
Tanaman padi (Oryza sativa L.) termasuk golongan tanaman semusim,
dalam sistematika tumbuhan (taksonomi) dalam Aksi Agraris Kanisus (2000).
tanaman padi diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub dipisio : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Glumiflorae
Familia : Graminae
Sub famili : Oryzadiae/Poaceae
Genus : Oryza
Species : Oryza sativa L.
Padi mempunya susunan morfologi yaitu akar, batang ,daun dan bunga.
1. Akar
Akar tanaman padi adalah akar serabut. Akar yang mula-mula muncul disebut akar seminal yang tumbuh sewaktu berkecambah
bersama-sama akar-akar lain yan muncul dari janin dekat bagian buku skutellum.
Akar-akar bersifat sementara dan akan
diganti oleh akar adventif yang tumbuh dari buku yang terbawah batang. Berbeda
dengan sistem perakaran tanaman berkeping dua,
maka akar tanaman padi tidak memiliki pertumbuhan sekunder (Esau, 1977). Dengan
demikian diameter akar tidak akan banyak berubah sejak tumbuh.
2. Batang
Batang tanaman padi terdiri dari ruas-ruas yang dibatasi oleh buku. Pada
tanaman yang masih muda batang padi terutama terdiri dari pelepah-pelepah daun
dan ruas-ruas yang tertumpuk padat. Sejalan dengan pertumbuhan tanaman
ruas-ruas itu kemudian semakin memanjang dan berongga, terutama setelah tanaman
memasuki stadia reduktif, karena itu stadia reproduktif disebut juga stadia
pemanjangan ruas (Yoshida,1981 dalam Manurung dan Ismunadji, 1988).
3. Daun
Daun tanaman padi tumbuh pada batang dalam susunan yang berselangseling,
satu daun tiap-tiap buku. Tiap-tiap daun terdiri dari helai daun, pelepah daun,
telinga daun dan lidah daun. Daun teratas pada tanaman padi disebut daun bendera
yang posisi dan ukurannya berbeda dengan daun yang lain. Jumlah daun pada
tiap-tiap tanaman tergantung pada varietas, biasanya antara 14 sampai 18 daun
pada batang utama didaerah tropik (Soemartono, Bahrin, Samad dan Haryono,
1982).
4. Bunga
Bunga tanaman padi secara keseluruhan disebut malai. Bagian terkecil dari
bunga padi dinamakan spikelet, yang terdiri dari tangkai, bakal buah, lemma,
palea, putik dan benangsari serta beberapa organ lainnya yang bersifat interior
(Manurung dan Ismunandji, 1988). Tiap unit bunga pada malai terletak pada
cabang-cabang bulir yang terdiri dari cabang primer dan sekunder (Siregar,
1981).
5. Buah
Gabah atau buah padi adalah ovary yang telah
masak, bersatu dengan lemma dan palea. Buah padi akan membentuk
sekam atau kulit gabah (Departemen pertanian, 1983).
2.1.2. Syarat Tumbuh Padi ( Oryza sativa L )
Tanaman
padi dapat tumbuh pada ketinggian 0-1500 m dpl, pada suhu 19-23º C, dengan
penyinaran matahari penuh tanpa naungan. Curah hujan berkisar 200 mm/bulan,
dengan distribusi selama empat bulan, dengan curah hujan per tahun sekitar
1500-2000 mm. Padi dapat tumbuh pada tanah yang ketebalan lapisan atasnya
antara 18-22 cm dengan pH tanah berkisar antara 4–7 (Nashshar, 2009).
2.2. Sistematika Jagung (Zea mays L)
2.2.1. Klasifikasi Jagung (Zea mays L)
Tanaman jagung manis termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies
Zea mays saccharata Sturt. Dalam Rukmana (2010), secara sistematik
tanaman jagung diuraikan sebagai berikut.
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub division : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Graminae
Famili : Graminae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays saccrata Linn.
2.2.2. Morfologi
Jagung (Zea mays L)
Ø
Akar
Sistem
perakaran jagung terdiri dari akar-akar yang seminal tumbuh ke bawah saat biji
berkecambah, akar koronal yang tumbuh ke atas jaringan batang setelah plamula
muncul dari akar udara (brace) yang tumbuh dari buku-buku di atas permukaan
tanah (Muhadjir,1998).
Ø
Batang
Batang
jagung beruas-ruas yang jumlahnya bervariasi antara 8-12 ruas. Panjang berkisar
antara 60-300cm tergantung dari tipe jagung. Ruas-ruas bagian atas berbentuk
agak silinder, sedangkan bagian bawahnya agak bulat pipih. Ruas batang yang
telah berkembang menghasikkan tajuk bunga betina atau tongkol (Muhadjir,1998).
Batang
jagung tidak berulang tetapi padatdan terisi oleh bekas-bekas pembuluh sehingga
memperkuat tegaknya tanaman. Batang jagung beruas-ruas yang jumlahnya
bervariasi antara 10-14 ruas, umumnya tak berkecambah, panjang batang berkisar
antara 60-300cm tergantung dari jenis jagung (Effendi,1990).
Ø
Daun
Daun
jagung memanjang dan keluar dari buku buku batang. Jumlah daun terdiri dari
8-48 helaian. Daun terdiri dari 3 bagian yaitu kelopak daun,lidah daun dan
helaian daun. Kelopak daun umumnya membungkus batang. Antara kelopak dan
helaian terdapat lidah daun yang disebut ligula. Fungsi ligula adalah mencegah
air masuk ke dalam kelopak daun dan batang (Purwono, 2008)
Ø
Bunga
Bunga
jagung tidak memiliki sepal dan tepal sehingga disebut bunga tidak lengkap.
Bunga jagung juga disebut bunga tidak sempurna karena bunga jantan dan betina
berada pada bunga yang berbeda,bunga jantan terdapat diujung batang. Adapun
bunga betina terdapat diketiak daun ke 6 atau ke 8 dari bunga jantan (Intanayu,
2011)
Ø
Biji
Biji
jagung tersusun rapi pada tongkol,dalam satu tongkol terdapat 200-400 biji. Biji jagung terdiri dari 3 bagian,
bagian paling luar disebut pericarp. Bagian atau lapisan kedua yaitu endosperm
yang merupakan cadangan makanan biji. Sedangkan bagian paling dalam yaitu
embrio atau lembaga (Jakariasurya, 2012)
2.2.3.Syarat Tumbuh Jagung (Zea mays L)
Untuk pertumbuhan yang baik, tanam jagung memerlukan air dan suhu yang cukup tinggi.
Tanam jagung memerllukan panas dan lembab dari waktu tanam sampai selesai pembuahan. Syarat tumbuh bagi tanaman
jagung manis yakni cahaya matahari cukup atau
tidak ternaungi (Emedinta, 2004).
Suhu di indonesia pada umumnya sudah cukup baik untuk pertumbuhan untuk
tanaman jagung. Suhu optimal yang di butuhkan untuk berkecambahnya biji jagung adalah kurang lebih 30 – 32 0C,
suhu optimum 24 – 30 0C, curah hujan merata sepanjang umur tanaman
antara 100 – 200 mm per bulan, ketinggian tempat optimal hingga 300 mdpl
(Sujana dkk, 1991). Selanjutnya di
katakan bahwa, intensitas cahaya matahari sangat di perlukan untuk pertumbuhan
yang baik. Sebaiknya tanaman jagung mendapat cahaya matahari yang langsung, dan
jangan menanam jagung pada tempat tempat terlindung dari cahaya matahari karena
dapat mengurangi hasil.
Jagung
dapat tumbuh pada pH tanah antara 5,5 – 7,0 dan tanaman ini dapat tumbuh pada
ketinggian 0-1300 Mdpl. Tanah yang kemiringannya tidak lebih dari 8% masih
dapat ditanami jagung dengan arah barisan melintang searah kemiringan tanah
dengan maksud mencegah erosi pada waktu terjadi hujan (Suprapto, 1990).
2.3. Sistematika Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
2.3.1. Klasifikasi Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Dalam
taksonomi (sistematika) tumbuh – tumbuhan, kacang tanah di klafikasikan sebagai
berikut:
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Rosales
Family : Papilionaceae
Genus : Arachis
Spesies : Arachis hypogeae. (Pitojo, 2005)
2.3.2.Morfologi
Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Ø
Akar (Radix)
Menurut Rahmat(2005), perakaran
kacang tanah terdiri atas :Akar lembaga (Radicula ), akar tunggang (radix
lateralis). Pertumbuhan akar menyebar ke semua arah sedalam ± 30 cm dari
permukaan tanah. Akar berfungsi sebagai penghisap unsur hara dan air untuk
pertumbuhan.Akar tanaman kacang tanah bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium radicola.Bakteri ini terdapat
pada bintil-bintil (nodula-nodula) akar tanaman kacang tanah dan hidup
bersimbiosis dan saling menguntungkan.Tanaman kacang tanah tidak dapat
mengambil nitrogen bebas (N2) dari udara tanpa bakteri Rhizobium radicola. Sebaliknya bakteri
ini tidak dapat mengikat nitrogen tanpa bantuan tanaman kacang tanah
(Rahmat,2005)
Ø
Batang (Calius)
Batang tanaman kacang tanah berbentuk perdu yang tingginya 30-50 cm.
Dilihat dari tipe pertumbuhan batangnya, dibedakan menjadi dua tipe yaitu tipe
tegak dan menjalar. Tipe tegak berumur lebih genjah (100-120 hari) dan kematangan polongnya
seragam. Tipe menjalar berumur panjang
(150-180) dan kematangan polongnya tidak seragam. Potensi hasil tipe menjalar perbatanganya lebih banyak tetapi
produksi persatuan luasnya lebih sedikit
(Nurwidada, 1998).
Ø
Daun (folium )
Daun kacang tanah berdaun majemuk bersirip genap terdiri atas empat anak daun dengan
tangkai daun agak panjang. Helaian anak daun ini bertugas menerima cahaya
matahari sebanyak banyaknya. Daun kacang tanah mulai gugur pada akhir masa
pertumbuhan dan dimulai dari bagian bawah. Selain berhubungan dengan umur, gugur
daun kadang ada hubungannya dengan faktor penyakit ( Suhaeni, 2007 ).
Ø
Bunga (Plos)
Kacang tanah mulai berbunga pada
umur 4-5 minggu. Bunga keluar dari ketiak daun bentuk bunganya aneh.setiap
bunga seolah olah bertangkai panjang berwarna putih.ini sebenarnya tangkai
bunga melainkan tabung kelopak.Mahkota bunganya (coroola) kuning . Bendera dari mahkota bunganya bergaris-garis
merah pada pangkalnya.Umur bunga hanya satu hari mekar pagi hari dan layu di
sore hari (Suprapto,2004)
Ø
Buah (Fructus)
Kacang tanah berbuah
polong.polongnya terbentuk setelah terjadi pembuahan, bakal buah tumbuh
memanjang. Inlah yang di sebut dengan gynofor yang nantinya menjadi tangkai
polong.Mula-mula ujung ginofor yang runcing mengarah keatas. Setelah
tumbuh,ginofor mengarah kebawag selanjutnya mengarah kebawah dan selanjutnya
masuk kedalam tanah. Pada waktu inofor menembus tanah ,peranan hujan sangat
membantu.setelah membentuk polong, pertumbuhan memanjang ginofor berhenti.
Panjang ginofor dapat mencapai 6-18 cm. Ukuaran polong bervariasi tergantung
jenis atau varietasnya dan tingkat kesuburan tanah, polong berukuran besar
mencapai panjang 6 cm dengan diameter 1,5 cm (Rahmat,2005).
Ø
Biji (Semen)
Menurut Rahmat (2005), Biji kacang tanah berbentuk agak bulat sampai
lonjong,terbungkus kulit biji tipis berwarna putih,merah, ungu. Inti biji (nucleus seminis) terdiri atas lembaga
(embrio) dan putih telur (albumin). Biji kacang tanah berkeping dua (
dicotyledonae),juga merupakan alat perbanyakan tanaman dan bahan makanan.
Ukuran biji kacang tanah bervariasi, mulai dari kecil sampai besar. Biji
kecil beratnya 250-400 gram/1.000 biji kacang,sedangkan biji besar ±
500gram/1.000 butir. Warna biji kacang bermacam-macam ada yang putih, merah,
ungu, kesumba (Suprapto, 2004)
2.3.3. Syarat Tumbuh Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Ø Iklim
Faktor iklim, adalah faktor kritis yang memang belum dapat dikendalikan
oleh manusia. Namun Kacang Tanah dapat tumbuh pada temperatur berkisar antara
18-340 C dan Optimum 25-270C. Dengan curah hujan pada
masa pertumbuhan sekitar 100 mm dan optimum berkisar antara 400-1100 mm.
Kelembaban berkisar 80%, (Pajow. et.al, 1999)
Ø
Tanah
Kacang tanah dapat tumbuh pada lahan dengan ketinggian 0-500m di atas
permukaan laut. Tanaman ini tidak terlalu memilih tanah khusus. Diperlukan iklim yang lembab.Di
daerah yang memiliki musim kemarau panjang, kacang tanah memerlukan pengairan,
terutama pada fase perkecambahan, pembuahan dan
pengisian
polong (Mangoendidjojo, 2003).
Kacang tanah tumbuh dengan baik jika
ditanam di lahan ringan yang cukup mengandung unsur hara, gembur dan pH 5,0 – 6,3, kacang
tanah dapat tumbuh pada ketinggian tempat 0-500 m di atas permukaan
laut (dpl) dan curah hujan waktu tanam selama dua bulan pertama yang baik ialah
150-250 mm/bulan dan suhu udara antara 25 0 C- 300
C dengan penyinaran penuh (Marzuki, 2007).
2.4. Sistem Tanam Metode SRI (System of Rice Intensification )
System of Rice Intensification (SRI) adalah sistem
intensifikasi padi yang menyinergikan tiga faktor pertumbuhan untuk mencapai
produktivitas maksimal (maksimalisasi jumlah anakan, pertumbuhan akar, dan suplai
hara, air, oksigen). Air hanya digunakan untuk menjaga kelembaban tanah agar
padi dapat tumbuh dengan baik. Hal ini dimaksudkan agar suplai oksigen ke
akar cukup sehingga padi menjadi sehat (Wiyono, 2004).
SRI
mengembangkan praktek pengelolaan padi yang memperhatikan kondisi pertumbuhan
tanaman yang lebih baik, terutama di zona perakaran, dibandingkan dengan
teknik budidaya cara tradisional (Berkelaar, 2008).Adapun Keunggulan metode SRI (System
of Rice Intensification) adalah
sebagai berikut :
Ø Tanaman hemat air, Selama pertumbuhan dari
mulai tanam sampai panen memberikan air max 2 cm, paling baik macak-macak
sekitar 5 mm dan ada periode pengeringan sampai tanah retak ( Irigasi terputus)
Ø Hemat biaya, hanya butuh benih 5 kg/ha.
Tidak memerlukan biaya pencabutan bibit, tidak memerlukan biaya pindah bibit,
tenaga tanam kurang dll.
Ø Hemat waktu, ditanam bibit muda 5 - 12 hss,
dan waktu panen akan lebih awal
Ø Produksi meningkat, di beberapa tempat mencapai 11 ton/ha
Dari pengalaman SRI di negara Banglades , Cambodia, China, Indonesia , Nepal ,
Srilangka Vietnam bahwa rata terjadi pengningkatan untuk padi sebesar rata 52
% untuk pemberian air berkurang 40 % , biaya yang bisa dihemat antara 25 %
dan income yang didapat sebesar rata 128 % (http://litbang.go.id,
2008).
2.5. Pola Tanam ganda ( Tumpang sari )
Pertanaman tumpangsari sebagai salah satu usaha intensifikasi yang
memanfaatkan ruang dan waktu, banyak dilakukan terutama pada pertanian lahan
sempit, lahan kering atau lahan tadah hujan. Sebagai salah satu sistem
produksi, tumpangsari diadopsi karena mampu meningkatkan efisiensi penggunaan
faktor lingkungan (seperti cahaya, unsur hara dan air), tenaga kerja, serta
menurunkan serangan hama dan penyakit dan menekan pertumbuhan gulma. Selain itu
pertanaman secara tumpangsari masih memberikan peluang bagi petani untuk
mendapatkan hasil jika salah satu jenis tanaman yang ditanam gagal (Rahmianna
et al., 1989).
Sistem tanam tumpangsari adalah salah satu sistem tanam di mana
terdapat dua atau lebih jenis tanaman yang
berbeda ditanam secara bersamaan dalam waktu
relatif sama atau berbeda dengan penanaman berselang-seling
dan jarak tanam teratur pada sebidang tanah
yang sama (Sarman, 2001). Dikatakan oleh
Sarman (2001) bahwa kombinasi yang memberikan
hasil baik pada tumpangsari adalah jenis-jenis
tanaman yang mempunyai kanopi daun yang berbeda, yaitu jenis tanaman yang lebih rendah yang akan menggunakan sinar matahari lebih
efisien.
Tanaman yang biasa ditanam secara tumpangsari adalah kacang-kacangan
seperti kedelai, kacang tanah dan kacang hijau dengan jagung atau ubi kayu.
Tanaman jagung dan kacang tanah merupakan dua jenis tanaman yang sesuai untuk
ditumpangsarikan, karena kedua tanaman ini mampu beradaptasi pada lingkungan
secara luas dan relatif mempunyai syarat tumbuh yang sama. Jagung merupakan
tanaman yang agak tahan terhadap kekeringan dan efisien dalam pengunaan cahaya.
Sedangkan kacang tanah merupakan tanaman yang tahan terhadap naungan dan
akarnya mampu mengikat nitrogen (N) dari udara melalui simbiosis dengan bakteri
rhizobium (Adisarwanto, 2003).
BAB III.
METHODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktek Budidaya Tanaman Padi dan
Palawija dilaksanakan di Lahan praktek Fakultas Pertanian Universitas Graha
Nusantara pada bulan April s/d Juli 2014.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktek
Budidaya Tanaman Padi dan Palawija adalah : Cangkul, gembor, garu, ember,
penggaris, alat tulis dan camera.
Bahan yang digunakan dalam praktek
Budidaya Tanaman Padi dan Palawija adalah : Bibit padi (Varitas Invari 10), benih jagung, benih kacang tanah, pupuk kompos
pupuk an organik (Urea, SP36, KCL, Mg ).
3.3. Pelaksanaan Praktek
3.3.1.Budidaya Padi dengan
Methode SRI (System of Rice Intensification)
Ø
Pengambilan tanah
Tanah
yang dijadikan sebagai media tanam adalah tanah yang dipakai oleh Semester I Praktek Bercocok Tanam (2013), yang
terlebih dahulu distrerilisasikan dengan cara di kering anginkan selama
± 2 minggu agar gas beracun yang ada di dalam tanah tersebut menguap ke atas sehingga
tanah menjadi lebih steril.
Ø Pengisian pot
Pada
pengisian tanah ke pot terlebih dahulu tanah digemburkan dan dibersihkan dari
akar-akar dan sisa tanaman lainnya. Tanah yang diambil adalah tanah yang sudah
disterilisasikan sebanyak 18 kg/pot, kemudian dicampur dengan pupuk dengan dosis Urea :2,36 gram, KCL : 2,39 gram,
Mg : 38,03 gram dan SP-36 : 42,44 gram diaduk hingga merata, kemudian diberikan air
secukupnya hingga tanah dalam keadaan macak-macak.
Ø
Persemaian
Sebelum
melakukan persemaian, benih direndam terlebih dahulu. Benih yang mengapung
dibuang, benih yang tenggelam direndam selama 24 jam dan diperam 24 jam hingga
berkecambah dan varietas yang ditanan inpari 10. Media persemaian dibuat dalam Aqua
dengan campuran tanah bahan organik (kompos) kemudian benih ditanam kedalam
Aqua dengan jumlah benih satu. Persemain dilakukan secara bersamaan
sampai umur 14 hari.
Ø Penanaman
Penanaman
dilakukan secara bersamaan pada setiap perlakuan. Penanaman dengan model dangkal dan tegak.
Jumlah bibit ditanam per lubang tanam satu dengan umur bibit 14 hari setelah
semai.
Ø Pemeliharaan tanaman
ü Penyulaman; Penyulaman dilakukan pada saat penyiangan
pertama jika ada tanaman yang mati.
ü Penyiangan : Penyiangan dilakukan apabila ada gulma yang
tumbuh.
ü Pengairan
Pengelolaan air dilakukan 1:2, yaitu penggenangan satu hari (2 cm) dan
pengeringan dua hari dalam keadaan macak-macak. Tujuannya untuk memicu
perkembangan akar, pembentukan anakan, pembungaan, dan pembentukan bulir.
ü
Pengendalian hama
penyakit
Pengendalian hama penyakit dilakukan apabila ada tanaman yag terserang hama
dan penyakit dengan menggunakan pestisida dan fungisida.
ü
Pemupukan
Pemupukan dilakukan hanya satu kali, yaitu pada waktu pengisian pot sesuai
perlakuan.
Ø
Panen
Ketepatan
waktu panen sangat menentukan kualitas bulir, waktu yang tepat adalah bila
secara visual 90-95% bulir padi sudah bernas. Selanjutnya dilakukan pemotongan
batang dibawah malai dengan menggunakan sabit.
3.3.2. Budidaya Jagung (Zea mays L) dan Kacang Tanah (Arachis
hypogea L)
dengan Penanama Ganda (Tumpang sari)
Ø Penyiapan benih
Daya tumbuh benih lebih dari 90%, . Benih jagung yang dibutuhkan adalah
sebanyak 16 biji benih jagung .Sedangkan
kacang tanah yang ditanam
sebanyak 16 biji benih polong Kering, 2
benih tiap lubang tanam.
Ø Pengolahan tanah
Pengolahan lahan diawali dengan pengukuran lahan sesuai kebutuhan lahan
lalu membersihkan lahan dari gulma. Pengolahan tanah dilakukan 2 kali,
pencangkulan pertama sedalam 30 cm fungsinya untuk memecahkan bongkah tanah
agar diperoleh tanah yang gembur.
Ø Penanaman
Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang tanam 3 cm, dan tiap lubang diisi 2 butir benih. dengan jarak tanam 25 ×
25 cm jagung dengan kacang tanah.
Ø Penyiraman
Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman satu kali sehari , kecuali bila
tanah telah
lembab (hujan).
Ø
Pemupukan
Pemberian Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk kompos sebanyak 1 kg/
Plot sebelun 2 minggu tanam, tujuan pemberian pupuk kompos adalah untuk
menambah kan unsur hara dan memperkaya mikroorganisme dalam tanah. Untuk pupuk anorganik
dosis pupuk ( Urea : 3 gram, KCL : 1 gram SP-36 : 2 gram ) diberikan pada waktu
3 minggu setelah tanam dengan cara pupuk
disebarkan ke petakan.
Ø Penyiangan dan Pembumbunan
Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dimulai 2 minggu setelah
tanam, waktu interval penyiangan dilakukan 1 minggu sekali. Cara
penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma dan mencangkul.
Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 4 minggu membentuk ginofor
tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk
menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah, pada tanaman kacang
tanah pembumbunan dilakukan untuk mempermudah ginofor masuk kedalam tanah dan
ginofor menjadi buah. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman
diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun
ke pangkal batang tanaman.
Ø
Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian hama dan penyakit dilakukan apabila ada serangan hama dan
gejala penyakit tanaman.
Ø
Panen
Panen jagung :
Tanaman jagung manis dipanen berumur 70
hari, jagung dipanen pada fase masak susu, ciri jagung yang dipanen apabila buah jagung ditekan mengeluarkan air seperti
susu, kelobot (bungkus janggel jagung) berwarna cokelat muda dan kering
serta rambut jagung kering.
Panen kacang tanah
Umur panen 110 hari, sebagai kriteria penentuan saat panen sebagai berikut : Sebagian besar daun
menguning dan gugur, sebagian besar polong(80%),telah tua, kulit polong cukup
keras dan berwarna coklat kehitaman-hitaman, kulit biji tipis dan mengkilat,
batang mulai mengeras, rongga polong telah berisi penuh dengan biji dan keras.
Sebelum panen lahan disiram, agar pada waktu panen memudahkan pengambilan
polong. Panen dilakukan dengan mencabut
batang tanaman secara hati-hati agar polong tidak tertinggal dalam tanah.
3.4. Parameter Pengamatan
3.4.1. Padi (Oryza sativa L)
Ø Tinggi tanaman (cm)
Pengukuran
dilakukan mulai tanaman berumur satu minggu setelah pindah tanam dengan
interval waktu satu kali dalam dua minggu hingga tanaman mengeluarkan bulir
(umur 72 hari) setelah pindah tanam. Dengan cara mengukur tanaman mulai dari
ujung ajir yang dibuat hingga ujung daun tertinggi.
Ø
Jumlah anakan per
rumpun (batang)
Jumlah
anakan dihitung dengan cara menghitung jumlah anakan yang muncul pada saat
umur satu minggu setelah tanam dengan
interval waktu satu kali dalam dua minggu hingga tanaman mengeluarkan bulir
(umur 72 hari) setelah pindah tanam.
3.4.2. Jagung (Zea
mays L) dn Kacang Tanah (Arachis
hypogea L)
Ø
Persentase Pertumbuhan
Pengamatan persentase pertumbuhan dilakukan pada umur 2 minggu setelah
tanam,dengan menghitung jumlah tanaman yang hidup dan mati dengan rumus sebagai
berikut :
( X) Jumlah tanaman yang hidup ×
100%
(Y)
Total yang di tanamn
Ø Jagung (Zea mays
L) Tinggi tanaman (cm)
Pengamatan tinggi tanaman jagung dimulai dari pangkal batang sampai titik
tumbuh tanaman. Pengamatan dilakukan
mulai pada umur 2 minggu setelah tanam sampai tanaman mengeluarkan bunga jantan, Interval waktu pengamatan 1 minggu.
Ø
Kacang Tanah (Arachis hypogea L) Jumlah cabang daun
Pengamatan jumlah cabang daun dilakukan mulai pada umur 2 minggu setelah
tanam samapai panen, Interval waktu pengamatan 1 minggu.
3.5.
Denah Tanaman
Adapun denah tanaman Jagung (Zea mays L) dan Kacang tanah (
Arachis hypogea L) dalam satu plot adalah sebagai berikut :
|
Keterangan
: J (Jagung ) dan X (Kacang Tanah )
BAB IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.Hasil
4.1.1. Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Metode SRI (System of Rice
Intensification)
Adapun hasil pengamatan
tanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem
tanama Metode SRI (System of Rice Intensification), dan dengan parameter pengamatan
Tinggi tanaman (cm) dan jumlah anakan adalah sebagai berikut :
Tabel.Tinggi tanaman dan jumlah Anakan tanaman
Padi (Oryza sativa L)
|
No
|
Pengamatan
|
Jumlah Anakan
|
Tinngi Tanaman (cm)
|
|
1
|
I
|
5
|
21,3
|
|
2
|
II
|
18
|
37,1
|
|
3
|
III
|
34
|
46,5
|
|
4
|
IV
|
48
|
68,3
|
Grafik jumlah anakan Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode
SRI (System of Rice Intensification)

Grafik Tinggi Tanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode
SRI (System of Rice Intensification)

4.1.2.
Budidaya Jagung (Zea mays L) dan
Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
dengan Penanaman Ganda (Tumpang sari)
- Tinggi Tanaman Jagung (Oryza sativa L)
Tabel.2. Tinggi tanaman jagung
|
No
|
Tanaman
|
Pengamatan, Tinggi
Tanaman (Cm)
|
|||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
||
|
1
|
Tan.1
|
14.2
|
21.3
|
30.8
|
45.2
|
67.3
|
88.2
|
|
2
|
Tan. 2
|
9.2
|
14.2
|
21.2
|
38.8
|
51.4
|
66.4
|
|
3
|
Tan. 3
|
15.3
|
22.7
|
32.1
|
50.4
|
79.3
|
107.5
|
|
4
|
Tan. 4
|
14.8
|
22.6
|
33.6
|
41.2
|
58.4
|
86.3
|
|
5
|
Tan. 5
|
12.4
|
18.5
|
27.7
|
38.7
|
58.3
|
73.6
|
|
6
|
Tan. 6
|
13.6
|
20.3
|
25.1
|
44.1
|
66.7
|
108.6
|
|
7
|
Tan. 7
|
10.7
|
14.2
|
23
|
48.7
|
74.5
|
97.6
|
Adapun grafik tinggi
tanaman jagung (Zea mays L) adalah
sebagai berikut

- Persentase pertumbuhan Jagung (Zea mays L)
Hasil persnsentase pertumbuhan tanaman jagung (Zea mays L) dengan metode penanaman
berganda (Tumpang sari) adalah sebagai berikut:
7 (Jumlah tanaman yang hidup) × 100 %
8 (Total tanaman yang di tanam)
= 87,5 %
- Kacang Tanah (Arachis hypogea L)
Tabel.3.Jumlah cabang daun
|
No
|
Tanaman
|
Pengamatan,Jumlah cabang
daun
|
|||||
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
V
|
VI
|
||
|
1
|
Tan. 1
|
6
|
9
|
17
|
25
|
31
|
36
|
|
2
|
Tan. 2
|
8
|
12
|
16
|
22
|
24
|
28
|
|
3
|
Tan. 3
|
7
|
11
|
15
|
19
|
25
|
31
|
|
4
|
Tan. 4
|
5
|
9
|
14
|
17
|
21
|
25
|
|
5
|
Tan. 5
|
4
|
7
|
11
|
14
|
18
|
21
|
|
6
|
Tan. 6
|
8
|
12
|
19
|
25
|
28
|
34
|
Grafik Jumlah cabang daun tanaman kacang tanah (Arachis
hypogea L) adalah sebagai
berikut :

- Persentase pertumbuhan Kacang tanah (Arachis hypogea L)
Hasil persnsentase pertumbuhan tanaman kacang
tanah (Arachis hypogea L) dengan metode penanaman berganda (Tumpang sari) adalah sebagai berikut:
6 (Jumlah tanaman yang hidup) × 100 %
8 (Total tanaman yang di tanam)
= 75 %
4.2.Pembahasan
4.2.1. Budidaya Padi (Oryza sativa L) dengan Metode SRI (System of Rice
Intensification)
Dari tabel diatas
penanaman Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode
SRI (System of Rice Intensification) ,jumlah anakan dan tinggi tanaman semakin meningkat mulai pengamatan
pertama sampai pengamatan terakhir , jumlah anakan 5 pada pengamatan pertama
dengan umur 2 minggu setelah tanam dan
pengamatan terakhir 48 anakan , sedangkan untuk tinggi tanaman pengamatan pertama 21,3 cm dan pengamatan
terakhir 68,3 cm dengan umur tanaman 2 bulan setelah tanam.
Pertumbuhan tanaman padi berdasar pengamatan tinggi tanaman menunjukkan
bahwa bibit muda (umur 7 hss) memiliki pertumbuhan yang lebih baik daripada
bibit umur 11 dan 15 hss (105,63 berbanding 103,72-104,04 cm) pada umur 11
minggu. Hal ini menunjukkan bahwa bibit
umur muda lebih cepat beradaptasi sehingga menghasilkan tanaman yang tumbuh
relatif cepat (Gani, 2003).Konsisten dengan tinggi tanaman adalah jumlah anakan
total yang lebih tinggi padi ditanam dengan umur muda (14.60 batang untuk bibit
muda berbanding 12,70 dan 12,94 batang untuk bibit 11 dan 15 hss)
Berdasarkan hasil penelitian Husein (2013)
mengenai jumlah bibit per rumpun dan umur bibit pindah tanam terhadap
pertumbuhan dan produksi padi sawah dengan metode SRI (The System of Rice
Intensification) di dapat hasil bahwa, jumlah bibit per rumpun dan umur bibit pindah tanam yang terbaik terdapat
pada jumlah bibit 3 dan umur 0 dengan jumlah anakan 138,33 tetapi pada fase vegetatif
perlakuan jumlah bibit pada semua umur pengamatan yang terbaik terdapat pada
bibit 1 dengan jumlah anakan 124,42. Hal ini disebabkan karena penanaman 1
bibit per lubang dapat menghindari persaingan nutrisi, energi, hingga aktivitas
perakaran, sehingga memberikan kesempatan bagi tanaman untuk membentuk anakan.
Menurut Gardner, et al, (1991) jumlah anakan akan maksimal apabila
tanaman memiliki sifat genetik yang baik ditambah dengan keadaan lingkungan
yang menguntungkan atau sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Selanjutnya Ismunadji, et al, (1988) menyatakan bahwa jumlah anakan ini
juga ditentukan oleh radiasi matahari, hara mineral serta budidaya tanaman itu
sendiri.
Dari beberapa hasil penelitian (misalnya Laulanie, 1993; Wangiyana et
al., 2006), teknik SRI memang memberikan suasana
yang kondusif terhadap pertumbuhan anakan,
karena lingkungan pertumbuhannya yang tidak tergenang selama fase pertumbuhan vegetatif. Menurut teori phyllochron,
peluang untuk membentuk lebih banyak anakan akan lebih besar jika pindah tanam bibit dilakukan pada umur yang lebih muda dan pesemaian yang juga tidak tergenang, seperti komponen utama teknik SRI (Laulanie, 1993; Berkelaar, 2001;Uphoff et
al.,2002)
4.2.2. Budidaya Jagung (Zea mays L) dan Kacang Tanah (Arachis
hypogea L)
dengan Penanaman Ganda (Tumpang sari)
Dari hasil tabel diatas pada tinggi
tanaman jagung (Zea mays L) dan
jumlah cabang daun kacang tanah (Arachis
hypogea L), dengan penanaman berganda (Tumpang
sari ) yang paling tinggi pada pengamatan terakhir sebelum munculnya bunga
(reproduksi generatif ) adalah tanaman 6 dengan tinggi 108,6 cm dan paling
rendah 66,4 cm pada tanaman 2 ,untuk persentase pertumbuhan jagung 87,5 %
Pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L) jumlah cabang daun
yang paling banyak pada tanaman 1 dengan jumlah cabang daun sebanyak 36,
terendah dengan jumlah cabang daun 21 cabang pada tanaman ke 5, sedangkan
Persentase pertumbuhan kacang tanah 75%. Diantara kedua tanaman jagung dan
kacang tanah,tanaman yang paling banyak tumbuh yaitu tanaman jagung 87,5%.
Tanama
jagung tergolong mempunya peningkatan tinggi yang baik. Yaitu dengan rata-rata 8-10 cm perminggu.
Namun tinggi tanaman jagung juga dapat betkurang sesuai dengan keadaan umurnya,
dimana ujung tanaman (daun)telah menguning. Ada pula pengurangan tinggi tanaman
disebabkan oleh OPT (Bahri, S. 2007).
Tinggi tanaman antara ketiga pengaturan jarak tanam tidak berbeda
nyata, namun tinggi tanaman ini melebihi
tinggi tanaman yang ditanam secara monokultur (rata-rata 68 cm). Hal ini
dijelaskan oleh Somaatmadja et al. (1985) bahwa dalam pertanaman
tumpangsari, tanaman yang mengalami naungan
akan memberikan respon memperbesar luas daun dan batang lebih tinggi
(etiolasi). Selain itu, tidak berbeda nyatanya tinggi tanaman disebabkan pada
fase pertumbuhan vegetatif kacang tanah
(sampai umur 28 hari) cahaya masih cukup diterima tajuk kacang tanah karena
kanopi jagung belum berkembang.
Pertumbuhan
dan perkembangan tanaman berlangsung baik pada fase vegetatif maupun generatif.
Pada fase vegetatif terutama terjadi pada perkembangan akar, daun, dan batang.
Sedangkan pada fase generatif terjadi pembentukan dan perkembangan kuncup
bunga, bunga, buah, dan biji serta pendewasaan struktur penyimpanan makanan dan
penimbunan karbohidrat. Pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua proses yang
sangat erat hubungannya (Intanayu, 2011).
Pada umumnya tanaman kacang tanah mempunyai arti penting dalam menambah
kesuburan tanah karena kemampuannya mengikat N dari atmosfer sebagai hasil
kerja sama dengan bakteri Rhizobium sp dalam bintil akar. Manfaat N
fiksasi bagi tanaman lain dapat berupa perembesan dari bintil akar untuk
tanaman yang tumbuh bersama tanaman leguminosa, dan perombakan bahan organik
untuk tanaman berikutnya (Buckman dan Brady, 1982 dalam Kesumawati ,
1991).
Tetapi pada kenyataannya perembesan nitrogen terjadi lebih cepat dari pada
penggunaannya, sehingga kelebihan nitrogen ini dilepaskan ke dalam tanah (Russel, 1950 dalam
Kesumawati, 1991). Selain itu, tanaman jagung manis mengalami penaungan oleh
kanopi kacang tanah yang semakin melebar sehingga tanaman jagung manis tidak
banyak mendapatkan cahaya matahari dan karbon dioksida untuk berlangsungnya
proses fotosintesis. Dalam hal penyerapan unsur hara dan air, tanaman jagung
manis mengalami hambatan karena panjang dan jumlah akar tanaman kacang tanah
lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan akar tanaman jagung manis (Khalil,
2000).
Indeks kompetisi dapat terjadi secara intra spesifik dan inter spesifik di
antara tanaman. Kompetisi intraspesifik biasanya lebih besar dibandingkan
interspesifk dikarenakan pertumbuhan tanaman sama sehingga memperebutkan unsur
hara, air dan cahaya dalam kebutuhan yang sama (Herlina, 2011).
Bila antara dua tanaman mempunyai
kompetisi yang kecil dan saling bersinergisme maka indeks kompetisinya kecil.
Bila mempunyai kompetisi interspesifiknya kecil dibandingkan dengan
intraspesifiknya maka indeks kompetisinya kecil, berarti jagung manis dan
kacang tanah dapat ditumpangsarikan karena jagung memiliki batang yang tinggi
dan cepat tumbuh serta memiliki sebaran daun selang seling dan bentuk daun pita sehingga tanaman jagung masih memberi
kesempatan sebagian cahaya sampai kebawah, ini dapat dimanfaatkan oleh tanaman
kacang tanah. Sedangkan kacang tanah memilikibatang yang rendah dan tajuk yang
rimbun sehingga dapat mengatur kelembaban dan suhu mikro. Jika nilai indeks
kompetisi kurang dari satu akan mengakibatkan keuntungan hasil dalam sistem
tanam campuran dan sebaliknya jika indeks kompetisi lebih dari satu kombinassi tanaman tersebut akan menyebabkan
kerugian(Herlina, 2011).
Jagung dan kacang tanah memungkinkan untuk ditanam secara tumpangsari
karena kacang tanah termasuk tanaman C3, jagung tergolong tanaman
C4,sehingga sangat serasi (Indrianti, 2009).Jagung tergolong tanaman C4
dan mampu beradaptasi dengan baik pada faktor pembatas pertumbuhan dan
produksi. Salah satu sifat tanaman jagung sebagai tanaman C4antara
lain daun mempunyai laju fotosintesis lebih tinggi dibandingkan tanaman C3
fotorespirasi dan transpirasi rendah, efisien dalam penggunaan air(Salisbury
dan Ross, 1992)
BAB. V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Penanaman
Padi (Oryza sativa L) dengan sistem tanam Metode SRI (System of Rice Intensification) ,jumlah anakan dan tinggi tanaman semakin meningkat mulai pengamatan pertama
sampai pengamatan terakhir , jumlah anakan 5 pada pengamatan pertama dengan
umur 2 minggu setelah tanam dan
pengamatan terakhir 48 anakan , sedangkan untuk tinggi tanaman pengamatan pertama 21,3 cm dan pengamatan
terakhir 68,3 cm dengan umur tanaman 2 bulan setelah tanam.
Pengamatan
tinggi tanaman jagung (Zea mays L)
dan jumlah cabang daun kacang tanah (Arachis
hypogea L), dengan penanaman berganda (Tumpang
sari ) yang paling tinggi pada pengamatan terakhir sebelum munculnya bunga
(reproduksi generatif ) adalah tanaman 6 dengan tinggi 108,6 cm dan paling
rendah 66,4 cm pada tanaman 2 ,untuk persentase pertumbuhan jagung 87,5 %
Pada tanaman kacang tanah (Arachis hypogea L) jumlah cabang daun
yang paling banyak pada tanaman 1 dengan jumlah cabang daun sebanyak 36,
terendah dengan jumlah cabang daun 21 cabang pada tanaman ke 5, sedangkan
Persentase pertumbuhan kacang tanah 75%. Diantara kedua tanaman jagung dan
kacang tanah,tanaman yang paling banyak tumbuh yaitu tanaman jagung 87,5%.
5.2. Saran
Untuk
praktek lanjutan palawija dengan menanam
tanaman lebih dari 2 tanaman dalam satu areal lahan, untuk melihat sejauh mana
pertumbuhan tanaman dan produksi tanaman.
DAFTAR PUSTAKA
Adisarwanto. 2003.
Meningkatkan Produksi Kacang Tanah di Lahan Sawah dan
Lahan Kering.
PenebarSwadaya, Jakarta.Co., Chicago
Bahri, S. 2007. Petunjuk teknis Budidaya Jagung.
P4 Sulawesi Tengah TA. Pdf.
Berkelaar D. 2001. Sistem
Intensifikasi Padi (The System of Rice Intensification-
SRI) :Sedikit
Dapat Memberi Lebih Banyak, Bulletin ECHO (terjemahan).
Beets, W.C. 1982. Multiple
cropping and tropical farming system . Gower Publ
Gardner, P. F.,R. B. Pearce
dan R. L. Mitchell. 1991. Fisiologi
Tanaman
Budidaya Diterjemahkan oleh H. Susilo. Universitas
Indonesia Press. Jakarta
Gani.
A. 2003. Peningkatan Produksi Padi di Provinsi Jawa Tengah Melalui
Intensiikasi. Makalah SemilokaSRI. 2-5 Juni
2003. Klaten.
Husein.
M. 2013. Pengaruh Jumlah Bibit Per
Rumpun Dan Umur Bibit Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Padi Sawah Dengan
Metode SRI. Skripsi Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas
Graha Nusantara Padangsidimpuan.
Ismunadji,
M. Partohardjono, S. Syam, M dan Widjono, A. 1988. Padi. Buku I
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor.
Kesumawati, E. 1991
Pengaruh populasi tanaman kedelai terhadap komponen
hasil jagung
didalam tumpangsari kedelai-jagung. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas
Syiah Kuala.Hal: 21-26.
Khalil,
M. 2000. Penentuan waktu tanam kacang tanah dan dosis pupuk posfat
terhadap pertumbuhan, hasil kacang tanah dan jagung
dalam sistem tumpang sari. Agrista. Vol 4, no 3 :259-265.
Laulanié,
Henri de, 1993. Technical presentation on the System of Rice
Intensification, based on Katayama's tillering model. http://ciifad. cornell.edu/sri/Laulanie.pdf. Diakses:
2 juli 2014
Manurung,
S.O. dan M. Ismunadji, 1988. Morfologo dan Fisiologi Padi. Pusat
Penelitian dan PengembanganTanaman Pangan, Bogor
Nugroho,
W. H. 1990. Statisticial Analysis and Interpretation of Intercropping
Research. Faculty of Agriculture Brawijaya University,
Malang.
Rahmianna,
A. A., J. Purnomo dan Marwoto. 1989. Produktivitas tanaman kedelai
dan jagung padalingkungan tumpangsari di lahan tegal. Buletin
Palawija -: -.
Sarman,
S. 2001. Kajian tentang kompetisi tanaman dalam sistem tumpangsari di
lahan kering. JurnalAgronomi 5: -.
Siregar, H.
1981. Budidaya Tanaman Padi. CV. Yasaguna. Jakarta. 316 hal.
Soemartono,
Bahrin Samad dan Haryono,1982. Bercocok Tanaman Padi. Yasa
Guna, Jakarta
Suhaeni,
N. 2007. Petunjuk Praktis Menanam Kedelai. Penerbit Nuansa Bandung.
Somaatmadja, S., M.
Ismunadji, Sumarno, S. Mahyudin, S. O. Manurung dan
Yuswadi. 1985. Badan
Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian
dan
Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor.
Wangiyana, W., I. Hidayat, Z. Aripin, I. Basa, H.T.
Barus dan S. Sato, 2006.
Efisiensi Penggunaan Air dan
Hasil Tanaman Padi (Oryza sativa L.) antara Teknik Irigasi Konvensional
dan Berbagai Modifikasi Teknik SRI (System of Rice Intensification).
Hlm. 275-284. Dalam: Prosiding Seminar Nasional Perhimpunan
Agronomi Indonesia (Peragi), Yogyakarta 5 Agustus 2006.
LAMPIRAN
Ø
Jadwal kegiatan
|
No
|
Jadwal
Kegiatan
|
Kegiatan
|
Tujuan
|
|
1
|
26/04/2014
|
Pengambilan
tanah,penjemuran tanah
|
Agar
tanah kering,dan tanah menjadi gembur
|
|
2
|
03/05/2014
|
Penanaman
jagung dan kacang tanah
|
Untuk
memperoleh pertumbuhan dan produksi tanaman.
|
|
3
|
03/05/2014
|
Pemberian
pupuk dasar dan penyemaian bibit padi
|
Agar
unsur hara tersedia di dalam tanah.
Dilakukan
penyemaian,agar tanaman beradaptasi sebelum di pindahakan.
|
|
4
|
17/05/2014
|
Penyiangan
jagung dan kacang tanah, pembumbunan
Penanaman
padi
Pengamatan
I pertumbuhan jagung dan kacang tanah
|
Agar
tidak terjadi kompetisi unsur hara antara tanaman pokok dengan gulma dan
mengurangi serangan H/P
Untuk
memperbaiki tekstur dan struktur tanah
Agar
tanaman mengalami pertumbuhan dan perkembangan
|
|
5
|
24/05/2014
|
Pemupukan
tanaman dan pengamatan ke-2 jagung dan kacang tanah
|
Untuk
menambahkan unsur hara kedalam tanah,
Menyediakan
makanan bagi tanaman
|
|
6
|
31/05/2014
|
Pengamatan
ke-3 kacang tanah dan jagung,pengamatan I tanaman padi
|
Untuk
mengetahui pertumbuhan tanaman
|
|
7
|
07/06/2014
|
Pengamatan
ke-4 tanaman jagung dan kacang tanah
|
Untuk
mengetahui pertumbuhan tanaman
|
|
8
|
14/06/2014
|
Pengamatan
ke-2 padi dan pengamatan ke 5 tanaman jagung dan kacang tanah
|
-
|
|
9
|
21/06/2014
|
Penyiangan,pembumbunan
pengamatan ke 6 tanaman jagung dan kacang tanah
Pemeliharaan
tanaman padi
|
Agar
tidak terjadi kompetisi unsur hara antara tanaman pokok dengan gulma dan
mengurangi serangan H/P
Untuk
memperbaiki tekstur dan struktur tanah
|
|
10
|
05/06/2014
|
Pengamatan
ke 7 tanaman jagung dan kacan tanah pengamatan ke 4 tanaman padi
|
Untuk
mengetahui peningkatan pertumbuhan tanaman
|
Ø
Dokumentasi
fhoto

Gambar: Pemberian pupuk dasar Gambar: Penyemaian benih Padi

Gambar: Pengadukan pupuk dasar Gambar: Penanaman bibit Padi

Gambar:
Setelah penanaman
Gambar: Penanaman Benih kacang tanah dan jagung

Gambar: Pemupukan
jagung dan kacang tanah

Gambar:Mengukur tinnggi padi Gambar:Menghitung jumlah anakan
Langganan:
Postingan (Atom)
